Your Adsense Link 728 X 15

Beriman Kepada Al Quran dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu

Posted by "Asmaul Husna" Thursday, June 6, 2013 0 comments
Al Baqarah : 4

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat

Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para Rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada Rasul.

Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

Al Kabiir

Posted by "Asmaul Husna" Saturday, May 18, 2013 0 comments

Ibadah yang paling sering dilakukan kaum muslimin adalah shalat. Dalam shalat itu terdapat beberapa kalimat yang harus diucapkan dan gerakan yang harus dilakukan. Di setiap perubahan gerakan selalu diantarai dengan takbir (bacaan Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan).

Ketika seorang Muslim sudah takbir (membesarkan nama Allah), maka pikiran, perasaan, dan gerakan fisiknya hanya tertuju kepada Allah. Ia berdiri dengan posisi menghormat, rukuk dengan posisi merunduk, dan sujud, berserah diri secara total kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, panggilan siapapun tak boleh dihiraukan. Termasuk panggilan boss atau atasan, panggilan orangtua, panggilan HP atau telepon. Ia hanya peduli pada panggilan Allah SWT hingga salam.

Membesarkan nama Allah seharusnya tidak hanya dalam shalat. Kapan dan di manapun setiap manusia harus senantiasa membesarkan-Nya. Panggilan-Nya-lah yang harus diutamakan untuk didengar dibanding dengan panggilan siapapun. Aturan (syari’ah)-Nya-lah yang seharusnya lebih ditaati daripada semua aturan yang ada. Hanya Dia yang Maha Besar.

”(Kuasa Allah) yang demikian itu, karena sesunguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil (sia-sia), dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar”. Al-Hajj: 62)

Kaum Muslim yang menjalankan ibadah haji terlebih dahulu harus menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan dua helai kain putih tak berjahit (ihram), lalu berseru kepada Allah dengan kalimat talbiyah, labbaikallahumma labbaik. Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan hanya panggilan-Mu yang kami penuhi. Tiada yang bersekutu dengan-Mu.

Kebesaran Allah tak bertambah sedikitpun dengan takbir kita, demikian juga sebaliknya, kebesaran-Nya tak berkurang sekalipun semua makhluq-Nya tiada yang membesarkan-Nya. Kita takbir (membesarkan-Nya), karena kita butuh kepada-Nya. Kita bertakbir, karena kita ingin membesarkan jiwa kita dengan membebaskan diri dari semua oknum yang mengaku ”besar” atau justru kita ”besar-besarkan”. Hanya dengan takbir kita terbebas dari segala belenggu kejiwaan yang selama ini mengungkung kita.

Allah tak membutuhkan takbir kita, sebab Dia memang Mahabesar. Sang Penyandangnya (Al-Kabir) tidak membutuhkan pihak lain dalam segala hal, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Justru semua pihak tak terkecuali membutuhkan-Nya, karena semua diciptakan hanya untuk bergantung kepada-Nya.

Allah Mahabesar karena Dia abadi, tiada awal dan tiada akhir. Adapun semua makhluk-Nya diciptakan dalam batasan waktu. Ada awal dan ada akhirnya. Ada proses awal keberadaannnya dan akan berakhir dengan kepunahannya. Ada kelahiran dan ada kematiannya.

Dia Mahabesar, karena keberadaannya merupakan sumber terpancarnya semua makhluk. Dialah yang merupakan sumber keberadaan semua makhluk. Dia wajibul wujud (keberadaaa-Nya wajib), sedang manusia dan semua makhluk yang ada lebih pantas disebut mumkinul wujud (keberaannya hanya sebatas mungkin). Semua manusia boleh ada dan boleh juga tidak ada. Ketiadaannya tidak menjadikan yang lain menjadi tidak ada.

Dalam al-Qur’an ada beberapa figur yang mengaku ”Besar”, di antaranya adalah Qarun yang karena kepemilikannya terhadap harta, menjadikannya sombong. Dengan arogan ia mengkalim bahwa harta miliknya merupakan hasil usaha dan ilmu yang dimilikinya.

Figur lain yang tak kalah sombongnya adalah Namrud dan Fir’aun. Keduanya dihinakan oleh Allah dengan kematian yang mengenaskan.

Allah membenci setiap manusia yang merasa besar dan menyombongkan diri. Allah berfirman:

”Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”. (An-Nisaa: 173)

”Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi”. (Al-Qashash: 83)

Yang Maha Tinggi

Posted by "Asmaul Husna" Friday, May 17, 2013 0 comments
Sucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. (QS. Al-A’la: 1) 


Kata Al-Aliy dalam Al-Qur’an terdapat sebelas kali, sembilan di antaranya merupakan Asma Allah yang dirangkai dengan Asma-Nya yang lain. Dirangkai dengan kata Al-Kabir sebanyak lima kali, dirangkai dengan Al-Adzim dua kali, dan disambungkan dengan kata Al-Hakim sebanyak dua kali.

Dalam Al-Qur’an juga ditemukan penggunaan bentuk superlatif dari kata Al-Aliy, yaitu Al-A’la (yang Lebih Tinggi) sebagaimana yang tercetak di awal tulisan ini. Bahkan Al-Qur’an juga mengabadikan klaim Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan Yang Lebih Tinggi, dengan kata-kata yang populer: Ana Robbukumul a’la. Hingga Allah merendahkan dan menghancurleburkannya.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Tinggi (Al-Aliy). Dia mengalahkan dan menaklukkan seluruh yang ada, dan tak satu pun di antaranya yang mampu menolak titah dan ketentuan-Nya. Termasuk manusia yang kafir, boleh jadi mereka menentang Allah, tapi fisiknya pada akhirnya menyerah terhadap ketentuan-Nya. Mereka menjadi tua, lemah, sakit-sakitan, dan kemudian mati. Tak seorang manusia kafir pun yang dapat menepis ketentuan ini.

Apalagi makhluk yang lain, semua tunduk patuh, bahkan senantiasa bersujud kepada Allah, bertasbih. Al-Qur’an menyebutkan: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang. Gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang (tidak menjalani sujud) telah ditetapkan azabnya.” (QS. Al-Hajj: 18).

Sujud adalah simbolisasi dari “merendah” serendah-rendahnya. Pada posisi sujud, kepala atau kening kita yang menjadi simbol kehormatan dan kemuliaan kita justru langsung menyentuh bumi yang sehari-hari kita injak dan rendahkan. Itulah posisi terbaik kita sebagai hamba ketika berhadapan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya, dalam posisi seperti itu, ketika solat, dianjurkan kepada kita untuk membaca: “Subhana rabbiyal a’la,” Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi.

Sujud hanya boleh kita lakukan kepada Allah SWT. Kita tidak boleh sujud kepada siapa pun, dan kepada apa pun, karena Allah telah memuliakan kedudukan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang terhormat, mulia, lagi sempurna. Sangat naif jika kita bersembah diri kepada sesama manusia, apalagi kepada jin atau setan yang justru pernah diperintah Allah secara langsung bersujud kepada kita. Sungguh aneh jika ada orang yang takut, apalagi taat kepada jin dan setan.

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua, kecuali Iblis. Dia enggan dan sombong karenanya dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Kita adalah hamba Allah yang paling sempurna, karenanya kita harus meneladani sifat Allah, Al-Aliy dengan jalan menghiasi diri kita dengan himmah (ambisi positif) untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi. Caranya sederhana, lakukan hal-hal yang mulia dan bernilai tinggi, dan jauhi hal-hal yang rendah, remeh-temeh. Hidup kita hanya sekali, untuk itu yang sekali itu harus bernilai tinggi.

Untuk mencapai maqam yang tinggi, kita harus melewati aqabah (jalan mendaki), suatu jalan yang mengharuskan para pendakinya senantiasa tegar menghadapi goda dan teguh dalam cita-cita. Di setiap kelokan tak jarang dijumpai sorak-sorai yang merayu dan juga yang menakut-nakuti. Hanya pendaki istiqamah yang tetap sabar meniti pendakian hingga mencapai kemuliaan, ketinggian, sekaligus kebahagiaan dunia dan akherat. (Hamim Thohari)

Asy Syakuur

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments

Syukur selalu terkait dengan penerimaan nikmat. Seseorang yang menerima nikmat pantas dan seharusnya bersyukur. Lalu Bagaimana Dia Yang Maha Memberi Nikmat ternyata juga Maha Berterima kasih ? Sungguh keteladanan yang luar biasa telah ditampakkan oleh Allah SWT dalam suatu peragaan yang nyata, bahkan telah diabadikan menjadi nama-Nya, Asy-Syakuur.

Allah SWT selalu berterimakasih kepada hamba-Nya yang berbuat kebaikan, sekecil apapun. Meski kebaikan manusia adalah untuk diri mereka sendiri dan Allah sama sekali tidak mendapatkan imbalan apapun dari kebaikan tersebut,  Dia berterima kasih dengan cara memberikan pahala yang berlipat ganda atas kebaikan tersebut.

Satu kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya diumpamakan seperti sebutir padi, lalu padi itu ditanam. Satu pohon padi bercabang tujuh, masing-masing cabangnya menghasilkan seratus biji. Sungguh luar biasa, satu kebaikan diganjar dengan tujuh ratus pahala. Siapa yang bisa melipatgandakan kebaikan hingga 700 kali?

Tak cukup hanya dengan pahala, ternyata terimakasih Allah diwujudkan dalam bentuk lain, berupa pujian yang berulang-ulang. Allah memuji manusia yang berbuat baik sesuai dengan ketentuan-Nya dengan menyebut-nyebut namanya, menyebut kebaikannya, dan mengumumkannya pada seluruh penduduk bumi dan penghuni langit. Allah berseru pada seluruh malaikat, catatlah si Fulan telah
melakukan satu kebaikan dan Aku mencintainya. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka seluruh malaikatpun mencintainya.

Siapa yang menyebarkan nama baik kita? Siapa yang mengharumkan nama kita? Sungguh jika diukur dengan sungguh-sungguh antara kebaikan yang telah kita perbuat dengan pujian yang kita terima seringkali tidak seimbang. Apalagi jika dibandingkan degan berbagai kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya. Kalau bukan karena terimakasih Allah, sungguh kita adalah makhluk Allah yang hina, yang tak pantas menerima pujian sedikitpun juga.

Bentuk lain dari terima kasih Allah atas kebaikan manusia adalah dengan mengangkat derajatnya. Betapa banyaknya manusia yang berbekal sedikit kebaikan, tapi Allah mengangkat derajatnya sehingga secara otomatis mereka mendapatkan posisi yang baik, kedudukan yang terhormat, dan status sosial yang tinggi. Jika dihitung-hitung, sungguh kebaikan yang sedikit itu tidak ada artinya sama sekali.  “Dan sebutan namamu Aku populerkan.” (QS. Al-Insyirah: 4)

Jika Allah telah memberi teladan kepada kita tentang syukur, bagaimana dengan kita? Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah dengan memuji nama-Nya: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Segala pujian sesungguhnya tak cukup kita berikan kepada Allah, sebab kebaikan Allah melampaui segala bentuk pujian kita. Yang bisa memuji Allah dengan sebenar-benar pujian adalah Allah sendiri, sedang pujian kita hanya sekadar yang diajarkan-Nya kepada kita.

Tentu saja pujian saja tak cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasih, tanpa dibarengi ketaatan pada perintah dan larangan-Nya. Segala nikmat, karunia, rizki, keutamaan, fasilitas, dan semua pemberian Allah haruslah kita gunakan untuk amal kebaikan. Ketaatan adalah bukti yang paling nyata dari rasa syukur kita kepada Allah swt. Seribu atau sejuta pujian belum bisa menggambarkan kesyukuran tanpa adanya ketaatan.

Kedua, selain bersyukur kepada Allah kita harus berterimakasih kepada manusia. Jika kita mendapatkan kebaikan dari orang lain, sekecil apapun kebaikan itu, maka wajib bagi kita untuk mengucapkan terimakasih kepadanya. Tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih, kebaikan mereka hendaknya kita balas dengan kebaikan yang lebih banyak, atau minimal setara. Jika kita diberi hadiah sesuatu, maka wajib bagi kita membalas hadiah tersebut dengan lebih banyak, atau mnimal sama nilainya.

Begitulah cara kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia. (Hamim Thohari)

Al-Ghafuur, Yang Maha Pengampun

Posted by "Asmaul Husna" Thursday, May 16, 2013 0 comments
"Kabarkan olehmu (Wahai Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hijr: 49)


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw melewati para sahabat yang sedang larut dalam tawa dan canda, lalu beliau menyalami mereka, kemudian bersabda: "Apakah kalian tertawa sedang neraka di hadapan kalian?" Atas nasihat tersebut, para sahabat menyesal atas perbuatannya dan mereka merasa sangat tertekan.

Tak lama kemudian Rasulullah saw kembali kepada mereka dan berkata, "Jibril baru saja mendatangi saya dan menyampaikan bahwa Allah bertanya, mengapa saya menjadikan sebagian hamba-Nya putus asa dari rahmat-Nya?" Setelah itu beliau membaca ayat di atas.

Kata “Al-Ghafur” berasal dari kata dasar gha-fa-ra, sama dengan “Al-Ghaffar” yang sama-sama merupakan nama sekaligus sifat Allah. Sebagian Ulama memberi arti yang sama terhadap keduanya, sebagian lagi menyatakan bahwa cakupan Al-Ghaffar lebih luas dan dalam dibanding Al-Ghafur, dan sebagian lagi sebagaimana pendapatnya Imam Al-Ghazali bahwa Al-Ghafur lebih sempurna dan menyeluruh pengampunannya.

Lepas dari perbedaan tersebut, al-Qur’an tak kurang dari 91 kali menyebut kata Al-Ghafur. Sebagian besar dirangkai dengan nama dan sifat Allah yang lain, sebagian sisanya berdiri sendiri. Dari sekian banyak ayat, kata Al-Ghafuur lebih banyak disandingkan dengan kata Ar-Rahim (tak kurang dari 70 kali). Hal itu memberi kesan bahwa sifat ghafur-Nya lebih merupakan derivasi dari sifat kasih dan sayang-Nya.

Betapa tidak! Allah memberi ampunan kepada setiap mukmin yang bertobat dan bersungguh-sungguh meminta ampunan-Nya. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, kemudian ia tetap mengikuti jalan (petunjuk) yang benar." (QS. Thaaha: 82)

Bahkan kepada mereka yang telah melampaui batas dan tidak serta merta meminta ampunan sekalipun, Dia tetap berlapang untuk mengampuninya.

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tentu saja tetap ada batasnya, yaitu syirk. Untuk jenis dosa yang satu itu Allah tak akan memberi ampunan sampai yang bersangkutan bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirk) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisaa: 48)

Sebagai hamba-Nya Al-Ghafur, patut kita meneladani sifat tersebut dengan senantiasa berlapang dada, memberi maaf kepada mereka yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan kesalahan kepada kita. Kita tetap memberi maaf kepada mereka yang meminta maaf ataupun yang tidak, yang mengakui kesalahannya maupun yang tidak.

Dalam masalah yang satu ini Abu Bakar Ash-Shidiq patut diteladani. Bayangkan, ia tetap berlapang dada dan memberi maaf kepada orang yang telah memfitnah dan merusak nama baik keluarganya, padahal orang tersebut selama ini ditanggung segala kebutuhan hidupnya, termasuk sandang, papan, dan pangannya.

Pada awalnya ia marah, tersinggung, bahkan terlontar suatu sumpah untuk tidak lagi menafkahi orang tersebut, tapi ia segera membatalkannya. Atas sikapnya itu Allah menurunkan firman-Nya:

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22)

Al-Adhim, Yang Maha Agung

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
"Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi." (QS. Al-Jatsiyah: 37) 



Ruku’ adalah salah satu gerakan shalat yang harus dilakukan kaum muslimin. Posisi ruku' merupakan posisi tertunduk, di mana seseorang menundukkan separuh badannya dalam keadaan setengah berdiri. Pada saat posisi ketertundukan seperti itulah kita dianjurkan membaca: “Subahaana Rabbiyal Adhiim”, Maha Suci Allah, Yang Maha Agung. Kita ulangi bacaan itu minimal tiga kali. Dengan cara seperti itu, diharapkan tidak saja posisi fisik yang tertunduk, tapi hati mushalli (orang yang solhat) juga ikut merunduk.

Ketika shalat usai dilaksanakan, saatnya bagi kaum muslimin meminta ampunan atau maghfirah. Saat itu, bacaan yang dianjurkan adalah: Astaghfirullahal Adhiim, Aku minta ampuanan Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Lagi-lagi, kita minta Allah Yang Maha Agung, yang dengan keagungan-Nya bisa mengampuni dosa dan kesalahan kita, hamba-Nya yang hina.

Satu lagi yang telah mentradisi, setiap kali usia membaca Al-Qur’an, seorang Qaari menutup bacaannya dengan mengucapkan “Shadaqallahul-Adhiim”, yang artinya: “Maha Benar Allah, Yang Maha Agung. Al-Qur’an adalah bacaan agung, yang merupakan firman Allah Yang Maha Agung.

Kata “Adhim” pada dasarnya terambil dari kata a-dha-ma, yang berarti agung atau besar. Secara fisik, agung itu berarti besar, panjang, lebar, tinggi, sekaligus dalam. Ada yang bisa dijangkau dengan kasat mata, ada yang tidak. Gunung yang besar dan tinggi disebut agung karena kebesaran dan ketinggiannya, sekalipun masih dapat dijangkau oleh pandangan mata. Demikian juga binatang gajah disebut agung dibanding binatang lainnya karena fisiknya yang besar dan berat.

Di samping keagungan yang bersifat fisik atau materiel, ada juga keagungan yang bersifat immateriel, seperti keagungan perilaku atau akhlaq. Rasuullah saw dipuji oleh Allah karena akhlaqnya yang agung. Dia berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlaq agung (mulia).” (Al-Qalam: 4) Semua keagungan makhluq Allah tetap terbatas, yang berarti terjangkau oleh akal. Hanya ada satu keagungan yang berada di atas semua jenis keagungan. Dialah Yang Maha Agung, Allah swt. Mata manusia tidak mampu memandang-Nya, dan akal manusia tidak dapat menjangkau hakekat wujud-Nya.

Allah Maha Agung karena keagungannya berada di atas segala yang agung, bahkan keagungan segala yang agung di dunia itu merupakan anugerah, kasih dan sayang-Nya. Allah Maha Agung, karena keagungan-Nya tak bertepi serta tidak dapat diukur dengan apa pun.

Allah Maha Agung karena akal manusia berlutut di hadapan-Nya. Jiwa manusia gemetar dan larut dalam cinta-Nya. Di hadapan-Nya semua wujud menjadi kecil dan tak berarti apa-apa. Semua makhluq membutuhkan pertolongan-Nya. Tiada suatu apa pun yang dapat menolak ketetapan-Nya.

Terhadap hal ini, Allah menegaskan melalaui firman-Nya dalam hadits Qudsyi: “Kebesaran adalah selendag-Ku, sedang Keagungan adalah pakian-Ku. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka jahannam.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menegaskan dua hal. Pertama, kita harus senantiasa menyucikan nama-Nya dengan cara mengagungkan-Nya. Artinya, kita harus tetap meyakini bahwa tiada sedikit pun cela, kekurangan, dan sifat negatif pada Allah swt. Jika terbesit dalam hati kita keraguan tentang kesempurnaan Allah, maka kita harus segera beristighfar dan meminta ampunan-Nya.

Kedua, kebesaran dan keagungan itu hanya milik Allah. Dia-lah yang paling berhak menyandangnya. Sedangkan kita adalah makhluk-Nya yang hanya bisa menjadi agung dan mulia karena memuliakan-Nya, menjalankan syari’at-Nya, dan mengagungkan syia’ar-syi’ar-Nya. “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-hajj: 32)

Al-Halim, Yang Maha Penyantun

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
"Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." (QS. Al-Baqarah: 235) 


Dalam al-Qur’an, kata al-Halim tidak hanya khas milik Allah, tapi atribut ini bisa disandang manusia pilihan yang mempunyai sifat dan karakter penyantun. Setidak-tidaknya ada empat ayat yang digunakan Al-Qur’an untuk memberi gelar al-Halim kepada manusia.

Mereka itu adalah Nabi Ibrahim as -- dalam  Surat At-Taubah (9): 114 dan Surat Hud (11): 75. Orang kedua adalah Nabi Ismail, dalam Surat As-Shafat (37): 101. Kedua nabi tersebut mendapatkan julukan al-Halim langsung dari Allah SWT. Adapun orang ketiga adalah Nabi Syuaib, dalam Hud (11): 87. Bedanya, yang memberi gelar Al-Halim adalah kaumnya sebagai sindiran atas keteguhan dan kesantunannya dalam memperjuangkan misi kenabian.

Adalah pantas jika Ibrahim mendapat gelar al-Halim, karena kesabaran dan kesantunannya di luar batas-batas normal. Sekalipun diusir oleh ayahnya karena keyakinannya, beliau tidak marah, apalagi membencinya. Ia malah mendo’akan agar Allah SWT berkenan memberi ampunan kepada orangtuanya.

Allah mengingatkan bahwa mendo’akan orang kafir, sekalipun orangtuanya sendiri adalah perbuatan sia-sia dan diharamkan agama. Sekalipun begitu, Allah SWT tetap menghargai sikap santun dan sabar Nabi Ibrahim dengan pujian, bahkan diberi gelar al-Halim.

Ismail juga demikian. Ketika ayahnya, Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail tidak protes, marah, apalagi membencinya. Justru ia berkata kepada ayahnya: “Yaa abatif’al maa tu’maru satajiduni minash-shabirin. Wahai ayahku, laksanakanlah perintah Tuhanmu, engkau akan mendapati aku dalam keadaan bersabar."

Adakah kesantunan yang bisa melebihi kesantunan kedua nabi tersebut? Sulit, itu pasti. Tidak ada manusia yang derajat dan akhlaqnya sampai melebihi nabi. Meskipun demikian, ada di antara manusia biasa yang sampai ke derajat itu. Ia adalah Al-ahnaf bin Qois.

Sekalipun ada manusia yang bergelar al-Halim, sikap santun Allah berbeda: tidak dibatasi ruang dan waktu. Ia bersifat konstan. Dia yang menyaksikan kedurhakaan para pendurhaka, melihat pembangkangan para pembangkang, Dia masih memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri. Dia begitu santun walau kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Marilah kita renungkan sifat santun Allah melalui hadits di bawah ini:

“Seorang hamba Allah melakukan dosa, lalu berdo’a: wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah SWT berfirman: HambaKu telah melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena melakukan dosa. Kemudian hamba tersebut melakukan dosa lagi, lalu berdo’a : Wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah swt berfirman: HambaKu melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya karena melakukan dosa. Oleh karena itu berbuatlah sesuka hatimu, Aku akan ampunkan dosamu..." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah Maha Penyantun. Dia tidak memutuskan rizki-Nya kepada orang yang melakukan dosa, tidak bersegera menjatuhkan hukuman kepada orang yang durhaka. Hadits Qudsi berikut ini menggambarkan betapa Maha Santun-Nya Allah SWT:

"Jika engkau mengingat-Ku, Aku pun mengingatmu; jika engkau lupa kepada-Ku, aku tetap mengingatmu. Jika engkau taat kepada-Ku, maka pergilah kemana pun yang kau kehendaki. Engkau jadikan Aku pelindungmu, maka aku melidungimu; engkau tulus kepada-Ku, Akupun tulus kepadamu; engkau berpaling dari-Ku, Aku menuju kepadamu. Siapakah yang memberimu makan ketika engkau masih berbentuk janin dalam perut ibumu? Aku yang terus-menerus melakukan pentadbiran yang sempurna kepadamu, sehingga rencana-Ku terlaksana pada dirimu. Tetapi ketika engkau Ku-keluarkan menuju ke pentas bumi, engkau bergelimang di dalam dosa. Bukan begitu pembalasan kepada yang berbuat baik kepadamu." (Hamim Thohari)

Popular Posts