Your Adsense Link 728 X 15

Beriman Kepada Al Quran dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu

Posted by "Asmaul Husna" Thursday, June 6, 2013 0 comments
Al Baqarah : 4

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat

Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para Rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada Rasul.

Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

Al Kabiir

Posted by "Asmaul Husna" Saturday, May 18, 2013 1 comments

Ibadah yang paling sering dilakukan kaum muslimin adalah shalat. Dalam shalat itu terdapat beberapa kalimat yang harus diucapkan dan gerakan yang harus dilakukan. Di setiap perubahan gerakan selalu diantarai dengan takbir (bacaan Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan).

Ketika seorang Muslim sudah takbir (membesarkan nama Allah), maka pikiran, perasaan, dan gerakan fisiknya hanya tertuju kepada Allah. Ia berdiri dengan posisi menghormat, rukuk dengan posisi merunduk, dan sujud, berserah diri secara total kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, panggilan siapapun tak boleh dihiraukan. Termasuk panggilan boss atau atasan, panggilan orangtua, panggilan HP atau telepon. Ia hanya peduli pada panggilan Allah SWT hingga salam.

Membesarkan nama Allah seharusnya tidak hanya dalam shalat. Kapan dan di manapun setiap manusia harus senantiasa membesarkan-Nya. Panggilan-Nya-lah yang harus diutamakan untuk didengar dibanding dengan panggilan siapapun. Aturan (syari’ah)-Nya-lah yang seharusnya lebih ditaati daripada semua aturan yang ada. Hanya Dia yang Maha Besar.

”(Kuasa Allah) yang demikian itu, karena sesunguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil (sia-sia), dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar”. Al-Hajj: 62)

Kaum Muslim yang menjalankan ibadah haji terlebih dahulu harus menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan dua helai kain putih tak berjahit (ihram), lalu berseru kepada Allah dengan kalimat talbiyah, labbaikallahumma labbaik. Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan hanya panggilan-Mu yang kami penuhi. Tiada yang bersekutu dengan-Mu.

Kebesaran Allah tak bertambah sedikitpun dengan takbir kita, demikian juga sebaliknya, kebesaran-Nya tak berkurang sekalipun semua makhluq-Nya tiada yang membesarkan-Nya. Kita takbir (membesarkan-Nya), karena kita butuh kepada-Nya. Kita bertakbir, karena kita ingin membesarkan jiwa kita dengan membebaskan diri dari semua oknum yang mengaku ”besar” atau justru kita ”besar-besarkan”. Hanya dengan takbir kita terbebas dari segala belenggu kejiwaan yang selama ini mengungkung kita.

Allah tak membutuhkan takbir kita, sebab Dia memang Mahabesar. Sang Penyandangnya (Al-Kabir) tidak membutuhkan pihak lain dalam segala hal, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Justru semua pihak tak terkecuali membutuhkan-Nya, karena semua diciptakan hanya untuk bergantung kepada-Nya.

Allah Mahabesar karena Dia abadi, tiada awal dan tiada akhir. Adapun semua makhluk-Nya diciptakan dalam batasan waktu. Ada awal dan ada akhirnya. Ada proses awal keberadaannnya dan akan berakhir dengan kepunahannya. Ada kelahiran dan ada kematiannya.

Dia Mahabesar, karena keberadaannya merupakan sumber terpancarnya semua makhluk. Dialah yang merupakan sumber keberadaan semua makhluk. Dia wajibul wujud (keberadaaa-Nya wajib), sedang manusia dan semua makhluk yang ada lebih pantas disebut mumkinul wujud (keberaannya hanya sebatas mungkin). Semua manusia boleh ada dan boleh juga tidak ada. Ketiadaannya tidak menjadikan yang lain menjadi tidak ada.

Dalam al-Qur’an ada beberapa figur yang mengaku ”Besar”, di antaranya adalah Qarun yang karena kepemilikannya terhadap harta, menjadikannya sombong. Dengan arogan ia mengkalim bahwa harta miliknya merupakan hasil usaha dan ilmu yang dimilikinya.

Figur lain yang tak kalah sombongnya adalah Namrud dan Fir’aun. Keduanya dihinakan oleh Allah dengan kematian yang mengenaskan.

Allah membenci setiap manusia yang merasa besar dan menyombongkan diri. Allah berfirman:

”Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”. (An-Nisaa: 173)

”Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi”. (Al-Qashash: 83)

Yang Maha Tinggi

Posted by "Asmaul Husna" Friday, May 17, 2013 0 comments
Sucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. (QS. Al-A’la: 1) 


Kata Al-Aliy dalam Al-Qur’an terdapat sebelas kali, sembilan di antaranya merupakan Asma Allah yang dirangkai dengan Asma-Nya yang lain. Dirangkai dengan kata Al-Kabir sebanyak lima kali, dirangkai dengan Al-Adzim dua kali, dan disambungkan dengan kata Al-Hakim sebanyak dua kali.

Dalam Al-Qur’an juga ditemukan penggunaan bentuk superlatif dari kata Al-Aliy, yaitu Al-A’la (yang Lebih Tinggi) sebagaimana yang tercetak di awal tulisan ini. Bahkan Al-Qur’an juga mengabadikan klaim Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan Yang Lebih Tinggi, dengan kata-kata yang populer: Ana Robbukumul a’la. Hingga Allah merendahkan dan menghancurleburkannya.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Tinggi (Al-Aliy). Dia mengalahkan dan menaklukkan seluruh yang ada, dan tak satu pun di antaranya yang mampu menolak titah dan ketentuan-Nya. Termasuk manusia yang kafir, boleh jadi mereka menentang Allah, tapi fisiknya pada akhirnya menyerah terhadap ketentuan-Nya. Mereka menjadi tua, lemah, sakit-sakitan, dan kemudian mati. Tak seorang manusia kafir pun yang dapat menepis ketentuan ini.

Apalagi makhluk yang lain, semua tunduk patuh, bahkan senantiasa bersujud kepada Allah, bertasbih. Al-Qur’an menyebutkan: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang. Gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang (tidak menjalani sujud) telah ditetapkan azabnya.” (QS. Al-Hajj: 18).

Sujud adalah simbolisasi dari “merendah” serendah-rendahnya. Pada posisi sujud, kepala atau kening kita yang menjadi simbol kehormatan dan kemuliaan kita justru langsung menyentuh bumi yang sehari-hari kita injak dan rendahkan. Itulah posisi terbaik kita sebagai hamba ketika berhadapan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya, dalam posisi seperti itu, ketika solat, dianjurkan kepada kita untuk membaca: “Subhana rabbiyal a’la,” Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi.

Sujud hanya boleh kita lakukan kepada Allah SWT. Kita tidak boleh sujud kepada siapa pun, dan kepada apa pun, karena Allah telah memuliakan kedudukan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang terhormat, mulia, lagi sempurna. Sangat naif jika kita bersembah diri kepada sesama manusia, apalagi kepada jin atau setan yang justru pernah diperintah Allah secara langsung bersujud kepada kita. Sungguh aneh jika ada orang yang takut, apalagi taat kepada jin dan setan.

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua, kecuali Iblis. Dia enggan dan sombong karenanya dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Kita adalah hamba Allah yang paling sempurna, karenanya kita harus meneladani sifat Allah, Al-Aliy dengan jalan menghiasi diri kita dengan himmah (ambisi positif) untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi. Caranya sederhana, lakukan hal-hal yang mulia dan bernilai tinggi, dan jauhi hal-hal yang rendah, remeh-temeh. Hidup kita hanya sekali, untuk itu yang sekali itu harus bernilai tinggi.

Untuk mencapai maqam yang tinggi, kita harus melewati aqabah (jalan mendaki), suatu jalan yang mengharuskan para pendakinya senantiasa tegar menghadapi goda dan teguh dalam cita-cita. Di setiap kelokan tak jarang dijumpai sorak-sorai yang merayu dan juga yang menakut-nakuti. Hanya pendaki istiqamah yang tetap sabar meniti pendakian hingga mencapai kemuliaan, ketinggian, sekaligus kebahagiaan dunia dan akherat. (Hamim Thohari)

Asy Syakuur

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments

Syukur selalu terkait dengan penerimaan nikmat. Seseorang yang menerima nikmat pantas dan seharusnya bersyukur. Lalu Bagaimana Dia Yang Maha Memberi Nikmat ternyata juga Maha Berterima kasih ? Sungguh keteladanan yang luar biasa telah ditampakkan oleh Allah SWT dalam suatu peragaan yang nyata, bahkan telah diabadikan menjadi nama-Nya, Asy-Syakuur.

Allah SWT selalu berterimakasih kepada hamba-Nya yang berbuat kebaikan, sekecil apapun. Meski kebaikan manusia adalah untuk diri mereka sendiri dan Allah sama sekali tidak mendapatkan imbalan apapun dari kebaikan tersebut,  Dia berterima kasih dengan cara memberikan pahala yang berlipat ganda atas kebaikan tersebut.

Satu kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya diumpamakan seperti sebutir padi, lalu padi itu ditanam. Satu pohon padi bercabang tujuh, masing-masing cabangnya menghasilkan seratus biji. Sungguh luar biasa, satu kebaikan diganjar dengan tujuh ratus pahala. Siapa yang bisa melipatgandakan kebaikan hingga 700 kali?

Tak cukup hanya dengan pahala, ternyata terimakasih Allah diwujudkan dalam bentuk lain, berupa pujian yang berulang-ulang. Allah memuji manusia yang berbuat baik sesuai dengan ketentuan-Nya dengan menyebut-nyebut namanya, menyebut kebaikannya, dan mengumumkannya pada seluruh penduduk bumi dan penghuni langit. Allah berseru pada seluruh malaikat, catatlah si Fulan telah
melakukan satu kebaikan dan Aku mencintainya. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka seluruh malaikatpun mencintainya.

Siapa yang menyebarkan nama baik kita? Siapa yang mengharumkan nama kita? Sungguh jika diukur dengan sungguh-sungguh antara kebaikan yang telah kita perbuat dengan pujian yang kita terima seringkali tidak seimbang. Apalagi jika dibandingkan degan berbagai kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya. Kalau bukan karena terimakasih Allah, sungguh kita adalah makhluk Allah yang hina, yang tak pantas menerima pujian sedikitpun juga.

Bentuk lain dari terima kasih Allah atas kebaikan manusia adalah dengan mengangkat derajatnya. Betapa banyaknya manusia yang berbekal sedikit kebaikan, tapi Allah mengangkat derajatnya sehingga secara otomatis mereka mendapatkan posisi yang baik, kedudukan yang terhormat, dan status sosial yang tinggi. Jika dihitung-hitung, sungguh kebaikan yang sedikit itu tidak ada artinya sama sekali.  “Dan sebutan namamu Aku populerkan.” (QS. Al-Insyirah: 4)

Jika Allah telah memberi teladan kepada kita tentang syukur, bagaimana dengan kita? Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah dengan memuji nama-Nya: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Segala pujian sesungguhnya tak cukup kita berikan kepada Allah, sebab kebaikan Allah melampaui segala bentuk pujian kita. Yang bisa memuji Allah dengan sebenar-benar pujian adalah Allah sendiri, sedang pujian kita hanya sekadar yang diajarkan-Nya kepada kita.

Tentu saja pujian saja tak cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasih, tanpa dibarengi ketaatan pada perintah dan larangan-Nya. Segala nikmat, karunia, rizki, keutamaan, fasilitas, dan semua pemberian Allah haruslah kita gunakan untuk amal kebaikan. Ketaatan adalah bukti yang paling nyata dari rasa syukur kita kepada Allah swt. Seribu atau sejuta pujian belum bisa menggambarkan kesyukuran tanpa adanya ketaatan.

Kedua, selain bersyukur kepada Allah kita harus berterimakasih kepada manusia. Jika kita mendapatkan kebaikan dari orang lain, sekecil apapun kebaikan itu, maka wajib bagi kita untuk mengucapkan terimakasih kepadanya. Tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih, kebaikan mereka hendaknya kita balas dengan kebaikan yang lebih banyak, atau minimal setara. Jika kita diberi hadiah sesuatu, maka wajib bagi kita membalas hadiah tersebut dengan lebih banyak, atau mnimal sama nilainya.

Begitulah cara kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia. (Hamim Thohari)

Al-Ghafuur, Yang Maha Pengampun

Posted by "Asmaul Husna" Thursday, May 16, 2013 1 comments
"Kabarkan olehmu (Wahai Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hijr: 49)


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw melewati para sahabat yang sedang larut dalam tawa dan canda, lalu beliau menyalami mereka, kemudian bersabda: "Apakah kalian tertawa sedang neraka di hadapan kalian?" Atas nasihat tersebut, para sahabat menyesal atas perbuatannya dan mereka merasa sangat tertekan.

Tak lama kemudian Rasulullah saw kembali kepada mereka dan berkata, "Jibril baru saja mendatangi saya dan menyampaikan bahwa Allah bertanya, mengapa saya menjadikan sebagian hamba-Nya putus asa dari rahmat-Nya?" Setelah itu beliau membaca ayat di atas.

Kata “Al-Ghafur” berasal dari kata dasar gha-fa-ra, sama dengan “Al-Ghaffar” yang sama-sama merupakan nama sekaligus sifat Allah. Sebagian Ulama memberi arti yang sama terhadap keduanya, sebagian lagi menyatakan bahwa cakupan Al-Ghaffar lebih luas dan dalam dibanding Al-Ghafur, dan sebagian lagi sebagaimana pendapatnya Imam Al-Ghazali bahwa Al-Ghafur lebih sempurna dan menyeluruh pengampunannya.

Lepas dari perbedaan tersebut, al-Qur’an tak kurang dari 91 kali menyebut kata Al-Ghafur. Sebagian besar dirangkai dengan nama dan sifat Allah yang lain, sebagian sisanya berdiri sendiri. Dari sekian banyak ayat, kata Al-Ghafuur lebih banyak disandingkan dengan kata Ar-Rahim (tak kurang dari 70 kali). Hal itu memberi kesan bahwa sifat ghafur-Nya lebih merupakan derivasi dari sifat kasih dan sayang-Nya.

Betapa tidak! Allah memberi ampunan kepada setiap mukmin yang bertobat dan bersungguh-sungguh meminta ampunan-Nya. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, kemudian ia tetap mengikuti jalan (petunjuk) yang benar." (QS. Thaaha: 82)

Bahkan kepada mereka yang telah melampaui batas dan tidak serta merta meminta ampunan sekalipun, Dia tetap berlapang untuk mengampuninya.

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tentu saja tetap ada batasnya, yaitu syirk. Untuk jenis dosa yang satu itu Allah tak akan memberi ampunan sampai yang bersangkutan bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirk) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisaa: 48)

Sebagai hamba-Nya Al-Ghafur, patut kita meneladani sifat tersebut dengan senantiasa berlapang dada, memberi maaf kepada mereka yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan kesalahan kepada kita. Kita tetap memberi maaf kepada mereka yang meminta maaf ataupun yang tidak, yang mengakui kesalahannya maupun yang tidak.

Dalam masalah yang satu ini Abu Bakar Ash-Shidiq patut diteladani. Bayangkan, ia tetap berlapang dada dan memberi maaf kepada orang yang telah memfitnah dan merusak nama baik keluarganya, padahal orang tersebut selama ini ditanggung segala kebutuhan hidupnya, termasuk sandang, papan, dan pangannya.

Pada awalnya ia marah, tersinggung, bahkan terlontar suatu sumpah untuk tidak lagi menafkahi orang tersebut, tapi ia segera membatalkannya. Atas sikapnya itu Allah menurunkan firman-Nya:

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22)

Al-Adhim, Yang Maha Agung

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
"Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi." (QS. Al-Jatsiyah: 37) 



Ruku’ adalah salah satu gerakan shalat yang harus dilakukan kaum muslimin. Posisi ruku' merupakan posisi tertunduk, di mana seseorang menundukkan separuh badannya dalam keadaan setengah berdiri. Pada saat posisi ketertundukan seperti itulah kita dianjurkan membaca: “Subahaana Rabbiyal Adhiim”, Maha Suci Allah, Yang Maha Agung. Kita ulangi bacaan itu minimal tiga kali. Dengan cara seperti itu, diharapkan tidak saja posisi fisik yang tertunduk, tapi hati mushalli (orang yang solhat) juga ikut merunduk.

Ketika shalat usai dilaksanakan, saatnya bagi kaum muslimin meminta ampunan atau maghfirah. Saat itu, bacaan yang dianjurkan adalah: Astaghfirullahal Adhiim, Aku minta ampuanan Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Lagi-lagi, kita minta Allah Yang Maha Agung, yang dengan keagungan-Nya bisa mengampuni dosa dan kesalahan kita, hamba-Nya yang hina.

Satu lagi yang telah mentradisi, setiap kali usia membaca Al-Qur’an, seorang Qaari menutup bacaannya dengan mengucapkan “Shadaqallahul-Adhiim”, yang artinya: “Maha Benar Allah, Yang Maha Agung. Al-Qur’an adalah bacaan agung, yang merupakan firman Allah Yang Maha Agung.

Kata “Adhim” pada dasarnya terambil dari kata a-dha-ma, yang berarti agung atau besar. Secara fisik, agung itu berarti besar, panjang, lebar, tinggi, sekaligus dalam. Ada yang bisa dijangkau dengan kasat mata, ada yang tidak. Gunung yang besar dan tinggi disebut agung karena kebesaran dan ketinggiannya, sekalipun masih dapat dijangkau oleh pandangan mata. Demikian juga binatang gajah disebut agung dibanding binatang lainnya karena fisiknya yang besar dan berat.

Di samping keagungan yang bersifat fisik atau materiel, ada juga keagungan yang bersifat immateriel, seperti keagungan perilaku atau akhlaq. Rasuullah saw dipuji oleh Allah karena akhlaqnya yang agung. Dia berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlaq agung (mulia).” (Al-Qalam: 4) Semua keagungan makhluq Allah tetap terbatas, yang berarti terjangkau oleh akal. Hanya ada satu keagungan yang berada di atas semua jenis keagungan. Dialah Yang Maha Agung, Allah swt. Mata manusia tidak mampu memandang-Nya, dan akal manusia tidak dapat menjangkau hakekat wujud-Nya.

Allah Maha Agung karena keagungannya berada di atas segala yang agung, bahkan keagungan segala yang agung di dunia itu merupakan anugerah, kasih dan sayang-Nya. Allah Maha Agung, karena keagungan-Nya tak bertepi serta tidak dapat diukur dengan apa pun.

Allah Maha Agung karena akal manusia berlutut di hadapan-Nya. Jiwa manusia gemetar dan larut dalam cinta-Nya. Di hadapan-Nya semua wujud menjadi kecil dan tak berarti apa-apa. Semua makhluq membutuhkan pertolongan-Nya. Tiada suatu apa pun yang dapat menolak ketetapan-Nya.

Terhadap hal ini, Allah menegaskan melalaui firman-Nya dalam hadits Qudsyi: “Kebesaran adalah selendag-Ku, sedang Keagungan adalah pakian-Ku. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka jahannam.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menegaskan dua hal. Pertama, kita harus senantiasa menyucikan nama-Nya dengan cara mengagungkan-Nya. Artinya, kita harus tetap meyakini bahwa tiada sedikit pun cela, kekurangan, dan sifat negatif pada Allah swt. Jika terbesit dalam hati kita keraguan tentang kesempurnaan Allah, maka kita harus segera beristighfar dan meminta ampunan-Nya.

Kedua, kebesaran dan keagungan itu hanya milik Allah. Dia-lah yang paling berhak menyandangnya. Sedangkan kita adalah makhluk-Nya yang hanya bisa menjadi agung dan mulia karena memuliakan-Nya, menjalankan syari’at-Nya, dan mengagungkan syia’ar-syi’ar-Nya. “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-hajj: 32)

Al-Halim, Yang Maha Penyantun

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
"Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." (QS. Al-Baqarah: 235) 


Dalam al-Qur’an, kata al-Halim tidak hanya khas milik Allah, tapi atribut ini bisa disandang manusia pilihan yang mempunyai sifat dan karakter penyantun. Setidak-tidaknya ada empat ayat yang digunakan Al-Qur’an untuk memberi gelar al-Halim kepada manusia.

Mereka itu adalah Nabi Ibrahim as -- dalam  Surat At-Taubah (9): 114 dan Surat Hud (11): 75. Orang kedua adalah Nabi Ismail, dalam Surat As-Shafat (37): 101. Kedua nabi tersebut mendapatkan julukan al-Halim langsung dari Allah SWT. Adapun orang ketiga adalah Nabi Syuaib, dalam Hud (11): 87. Bedanya, yang memberi gelar Al-Halim adalah kaumnya sebagai sindiran atas keteguhan dan kesantunannya dalam memperjuangkan misi kenabian.

Adalah pantas jika Ibrahim mendapat gelar al-Halim, karena kesabaran dan kesantunannya di luar batas-batas normal. Sekalipun diusir oleh ayahnya karena keyakinannya, beliau tidak marah, apalagi membencinya. Ia malah mendo’akan agar Allah SWT berkenan memberi ampunan kepada orangtuanya.

Allah mengingatkan bahwa mendo’akan orang kafir, sekalipun orangtuanya sendiri adalah perbuatan sia-sia dan diharamkan agama. Sekalipun begitu, Allah SWT tetap menghargai sikap santun dan sabar Nabi Ibrahim dengan pujian, bahkan diberi gelar al-Halim.

Ismail juga demikian. Ketika ayahnya, Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail tidak protes, marah, apalagi membencinya. Justru ia berkata kepada ayahnya: “Yaa abatif’al maa tu’maru satajiduni minash-shabirin. Wahai ayahku, laksanakanlah perintah Tuhanmu, engkau akan mendapati aku dalam keadaan bersabar."

Adakah kesantunan yang bisa melebihi kesantunan kedua nabi tersebut? Sulit, itu pasti. Tidak ada manusia yang derajat dan akhlaqnya sampai melebihi nabi. Meskipun demikian, ada di antara manusia biasa yang sampai ke derajat itu. Ia adalah Al-ahnaf bin Qois.

Sekalipun ada manusia yang bergelar al-Halim, sikap santun Allah berbeda: tidak dibatasi ruang dan waktu. Ia bersifat konstan. Dia yang menyaksikan kedurhakaan para pendurhaka, melihat pembangkangan para pembangkang, Dia masih memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri. Dia begitu santun walau kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Marilah kita renungkan sifat santun Allah melalui hadits di bawah ini:

“Seorang hamba Allah melakukan dosa, lalu berdo’a: wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah SWT berfirman: HambaKu telah melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena melakukan dosa. Kemudian hamba tersebut melakukan dosa lagi, lalu berdo’a : Wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah swt berfirman: HambaKu melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya karena melakukan dosa. Oleh karena itu berbuatlah sesuka hatimu, Aku akan ampunkan dosamu..." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah Maha Penyantun. Dia tidak memutuskan rizki-Nya kepada orang yang melakukan dosa, tidak bersegera menjatuhkan hukuman kepada orang yang durhaka. Hadits Qudsi berikut ini menggambarkan betapa Maha Santun-Nya Allah SWT:

"Jika engkau mengingat-Ku, Aku pun mengingatmu; jika engkau lupa kepada-Ku, aku tetap mengingatmu. Jika engkau taat kepada-Ku, maka pergilah kemana pun yang kau kehendaki. Engkau jadikan Aku pelindungmu, maka aku melidungimu; engkau tulus kepada-Ku, Akupun tulus kepadamu; engkau berpaling dari-Ku, Aku menuju kepadamu. Siapakah yang memberimu makan ketika engkau masih berbentuk janin dalam perut ibumu? Aku yang terus-menerus melakukan pentadbiran yang sempurna kepadamu, sehingga rencana-Ku terlaksana pada dirimu. Tetapi ketika engkau Ku-keluarkan menuju ke pentas bumi, engkau bergelimang di dalam dosa. Bukan begitu pembalasan kepada yang berbuat baik kepadamu." (Hamim Thohari)

Al Khobir

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
"Dia tak tercapai oleh segala indera, tetapi Dia mencapai segala indera. Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An’am: 103) 


Al-Khabir berasal dari akar kata kha-ba-ra, yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Dalam Al-Qur’an, kata ini dipakai sebanyak 55 kali. Ada yang berdiri sendiri, tapi lebih banyak lagi yang digandengkan dengan Asma’ul Husna yang lain, seperti Al-Hakiim al-Khabiir, Al-Lathiif al-Khabiir, Al-Khabiir al-Bashiir, dan Al-Aliim al-Khabiir.

Dalam Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI, antara Al-Alim dengan Al-Khabir itu terjemahannya sama, yaitu Yang Maha Mengetahui. Padahal, keduanya mempunyai perbedaan arti yang signifikan. Al-Alim mencakup pengetahuan Allah tentang sesuatu dari sisi-Nya, sementara Al-Khabir adalah pengetahuan-Nya yang menjangkau sesuatu yang diketahui. Jika yang pertama (Al-Alim) tekanannya lebih kepada yang mengetahui, sedang pada yang kedua (Al-Khabir) justru yang menjadi titik tekannya adalah sesuatu yang diketahui.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang ajal, sesuatu yang sangat rahasia, di mana manusia tidak bisa mengetahui secara pasti, maka rangkaian sifat Allah yang digunakan untuk memperjelasnya adalah Al-Aliim al-Khabiir, sebagaimana ayat berikut ini: “Tidak seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).

Demikian juga ketika membahas tentang kualitas kemuliaan dan ketaqwaan seseorang, yang hanya Dia yang mengetahuinya, Al-Qur’an menggunakan rangkaian Al-Alii al-Khabiir, seperti ayat berikut: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13).

Lain halnya ketika al-Qur’an berbicara tentang hak prerogatif Allah, berupa rahmat atau adzab, rangkaian kata yaang dipakai adalah Al-Hakiim al-Khabiir, seperti ayat berikut: “Barangsiapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu?kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 16-18).

Rangkaian kata yang sama digunakan Al-Qur’an ketika berbicara tentang rincian perilaku makhluq-Nya yang menyimpang maupun yang lurus. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah, yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi; bagi-Nya segala puji di akherat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang merasuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana.” (QS. Saba: 1-2).

Pasangan lainnya adalah Al-Lathiif al-Khabiir. Pasangan ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat rahasia, sehingga indera biasa tak bakal mengetahuinya. Allah berfirman: “Dia tak tercapai oleh segala indera, tetapi ia mencapai segala indera. Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am: 103).

Rangkaian terakhir adalah Al-Khabiir al-Bashiir, yang dipakai al-Qur’an untuk menggambarkan pe­ngetahuan Allah tentang segala kebutuhan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman: “Sekiranya Allah me­lapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat semaunya di muka bumi. Tetapi Dia menurunkannya sesuai dengan ukuran yang di­kehendaki-Nya; terhadap hamba-hamba-Nya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS. Syuura: 27).

Tiada daun kering yang jatuh dari tangkainya, kemudian ditiup angin sehingga di bumi mana jatuhnya, kecuali Dia mengetahuinya. Tiada semut hitam yang berjalan di batu hitam di malam yang kelam, kecuali Dia pula yang mengetahuinya. Kedipan mata, degupan jantung, dan kehendak dalam hati, diketahui-Nya pula. Lalu ke mana kita bisa menghindar dari pantauan-Nya? (Hamim Thohari)

* Disalin dari Majalah Nebula (ESQ Magazine) Edisi 05/Tahun III/April 2007

Asmaul Husna (Al-Latif)

Posted by "Asmaul Husna" 8 comments

Kata Al Lathif  berasal dari akar kata la-tha-fa, yang bermakna lembut, halus, atau kecil. Az-Zajjaj, pakar bahasa Arab dalam tafsir Asma’ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai “yang mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi atau tak terduga.”

Predikat Al Lathif  memang pantas disandang Allah, dan hanya Dia yang pantas menyandangnya. Setidak-tidaknya, ada tiga alasan mengapa Dia disebut Al Lathif :

Pertama, Dia melimpahkan karunia kepada hamba-hambaNya secara tersembunyi dan rahasia, tanpa diketahui oleh mereka. Ketika Dia menyatukan dua insan berlainan jenis dalam mahligai rumahtangga, tak seorang pun tahu dari mana datangnya cinta. Begitu halus, begitu lembut, sehingga orang yang dikaruniainya tak juga mengetahuinya. Demikian pula anugerah rizki yang lain, semua serba halus dan tersembunyi. Al-Ghazali memberi catatan khusus di sini, ketika ia menggambarkan betapa Maha Halusnya Allah. Ia mengangkat contoh janin, bagaimana Allah memelihara janin ibu dan melindunginya dalam tiga masa kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi anak dalam rahim. Betapa Mahahalusnya Dia ketika memberi makan janin melalui pusar sampai ia lahir dan mengilhaminya menyusu kepada ibunya tanpa ada yang pernah mengajarinya. Gigi-gigi bayi ketika itu belum ditumbuhkan agar si Ibu tidak kesakitan ketika anaknya menyusu. Siapakah yang menahan tumbuhnya gigi bayi? Semuanya serba halus, lembut, dan nyaris tidak ada yang mengetahuinya.

Kedua, Dia menghamparkan alam raya ini untuk makhlukNya. Allah memberi kepada semua makhlukNya melebihi yang diminta. Kita tidak pernah minta hidup di dunia ini, tapi Dia menganugerahi kehidupan. Kita tidak pernah ingin dijadikan manusia, tapi Allah menakdirkan kita menjadi manusia. Kita tidak pernah minta bisa berbicara, tapi Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan berbicara. Dia telah memberi sebelum diminta. Di sisi lain, Dia tidak pernah menuntut balas, juga tidak memberi beban melebihi kemampuan makhlukNya. Adakah yang lebih santun dari Dia?

Ketiga, Dia berkeinginan agar semua makhlukNya mendapatkan kemaslahatan dan kemudahan. Dia tidak ingin makhlukNya mendapati kesulitan. Al-Qur’an bertutur: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesulitan.”

Itulah sebabnya, Allah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana kehidupan dan memberi kemudahan kepada manusia untuk mendapatkannya. Allah melengkapi makhlukNya dengan berbagai indera, selain naluri yang bersifat alamiah. Khusus untuk manusia, Allah mengaruniakan akal pikiran dan hati nurani. Dua sarana yang dikaruniakan Allah itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi.

Al `Adl Yang Maha Adil

Posted by "Asmaul Husna" Saturday, May 11, 2013 0 comments




Keadilannya bersifat mutlak. Keadilan adalah lawan kezaliman. Kezaliman menyebabkan penderitaan, kerusakan, dan rasa sakit hati, sedangkan keadilan menjamin kedamaian, keseimbangan, keteraturan, dan keselarasan. Alloh Yang Maha Adil adalah musuh orang-orang zalim : Dia membenci orang-orang yang mendukung kaum zalim maupun sahabat, simpatisan, dan rekan-rekan mereka. Di dalam Islam, apa pun bentuk kezaliman diharamkan. Adil adalah kemuliaan dan pertanda kebaikan seorang muslim.


Dua hal yang berlawanan ini  keadilan dan kezaliman  mempunyai implikasi yang luas dan lebih penting daripada hanya sekedar akibat-akibat moral dan sosial belaka. Keduanya setara dengan keselarasan lawan ketidakselarasan, keteraturan lawan kekacauan, benar lawan salah. Jika dalam mengungkapkan kedermawanannya seseorang memberikan uang kepada orang kaya, memberikan pedang kepada para ilmuwan, dan memberikan buku kepada tentara, maka dalam hal tertentu dia dianggap zalim, karena pedang hanya cocok bagi tentara, buku bagi para ilmuwan, dan si miskinlah yang membutuhkan uang. Akan tetapi, jika Alloh berbuat hal yang sama maka tindakan-Nya itu adil, karena Dia melihat segala, yang terdahulu dan yang terkemudian, yang zahir dan yang batin. Dialah Yang Maha Mengetahui , Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Keadilan Yang Mutlak. Dia menciptakan sebagian indah dan sebagian yang lain jelek, sebagian kuat dan yang lainnya lemah. Lalu Dia membuat yang indah menjadi jelek, yang kuat menjadi lemah, yang kaya menjadi miskin, yang bijaksana menjadi bodoh, yang sehat menjadi sakit. Semuanya adil. Semuanya benar.

Tampak bagi sebagian kita adalah tidak adil bahwa ada orang yang lumpuh, buta, tuli, kelaparan, gila, dan bahwa ada anak muda yang mati.

Alloh adalah Pencipta segala keindahan dan keburukan, kebaikan, dan kejahatan. Dalam hal ini ada rahasia yang sulit dimengerti. Tetapi setidak-tidaknya, kita memahami bahwa seringkali orang harus mengenal lawan kata dari sesuatu untuk memahaminya. Orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, tidak akan mengenal kebahagiaan. Jika tidak ada yang buruk, kita tidak akan mengenal keindahan. Baik dan buruk sama pentingnya. Alloh menunjukkan yang satu dengan yang lain, yang benar dengan yang salah, dan menunjukkan kepada kita akibat dari masing-masingnya. Dia memperlihatkan pahala sebagai lawan kata dari siksaan. Lalu dipersilakan-Nya kita untuk menggunakan penilaian kita sendiri. Sesuai dengan takdirnya, masing-masing mendapatkan keselamatan dalam penderitaan dan rasa sakit, atau kutukan dalam kekayaan. Alloh mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya. Hanya Alloh yang mengetahui nasib kita. Perwujudan dari nasib itu adalah keadilan-Nya.

Selain nama indah Alloh, al ‘Adl, kita harus bersyukur atas kebaikan, dan menerima, tanpa prasangka atau keluhan, apa pun nasib kita yang tampaknya kurang baik. Dengan demikian, mungkin rahasia keadilan Alloh akan terungkap kepada kita dan kita akan merasa berbahagia dengan kesenangan dan penderitaan yang berasal dari Sang Kekasih.

BAGIAN HAMBA

‘Abd Al ‘Adl orang yang pertama-tama memberlakukan terhadap dirinya sendiri apa yang ingin diberlakukannya kepada orang lain. Perbuatannya tak pernah didasarkan atas rasa marah, dendam, atau kepentingan diri sendiri : perbuatannya itu tak pernah merugikan orang lain. Dia bertindak dan berbuat sesuai dengan hukum Alloh. Tetapi orang seperti itu mengetahui bahwa keadilan Tuhan tidaklah seperti yang dibayangkan manusia. Dia memberikan hak-hak mereka sesuai dengan hak yang memang mereka miliki.
Manusia yang bermaksud meneladani sifat Alloh ini, setelah meyakini keadilan Ilahi, dituntut untuk menegakkan keadilan walau terhadap keluarga, ibu bapak dan dirinya (baca QS. An Nisa’ : 135) bahkan terhadap musuhnya sekalipun (baca QS. Al Maidah : 8).

Keadilan pertama yang dituntut adalah dari dirinya dan terhadap dirinya sendiri. Dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama, bukan menjadikannya tuan yang mengarahkan akal dan tuntunan agamanya. Karena jika demikian, ia tidak berlaku adil, yakni tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar.

Jangan duga, tulis Alghozali  bahwa penganiayaan (lawan dari keadilan) adalah gangguan dan keadilan adalah memberi manfaat kepada manusia. Tidak! Bahkan seandainya seorang penguasa membuka dan membagi-bagikan isi gudang yang penuh dengan senjata, buku, dan harta benda, kemudian dia membagikan buku-buku kepada ulama, harta benda kepada hartawan dan senjata kepada tentara yang siap berperang, maka walau sang penguasa memberi manfaat kepada mereka tetapi dia tidak berlaku adil, dia menyimpang dari keadilan, karena dia menempatkannya bukan pada tempatnya. Sebaliknya kalau seseorang memaksa si sakit untuk meminum obat yang pahit sehingga mengganggunya, atau menjatuhkan hukuman mati atau cemeti kepada terpidana, — maka inipun walau menyakitkan, adalah keadilan, karena pada tempatnya, sakit dan gangguan itu ditempatkan.

Ya Alloh, Aku bermohon kiranya Engkau melindungi aku dari keadilan-Mu dengan kelemah lembutan dan kasih sayang-Mu. Ya Alloh Aku berlindung dengan kemurahan-Mu dari keadilan-Mu. Wahai Tuhan Yang Maha Adil lagi Maha lemah lembut , Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Wallohu a’lam bi showab.

Sang Penguasa Angin

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
Seringkali kita mendengar cerita tentang kisah Nabi Sulaiman dan kehebatannya. Baik itu dari orang tua, maupun guru ngaji kita. Dari semua cerita yang kita ketahui, betapa hebatnya Sang Nabi, yang dapat mengendalikan angin, memerintah jin, bahkan semua makhluk pun tunduk kepada perintahnya. 

Konon katanya, beliau dianugrahi Tuhan sebuah cincin, yang mana dari cincin inilah beliau dapat menguasai hingga memerintah semua makhluk. Setelah kepergian Sang Pemilik Cincin, tidak ada yang tahu pasti dimana pusaka kekuasaan itu berada. Berawal dari ramalan seorang pengemis tak bernama kepada salah seorang murid toriqoh, “Kau akan melakukan perjalanan panjang!” ucapnya tiba-tiba saat berada di masjid Haramus-Syarif. Istilah murid dalam thoriqah adalah darwis. Darwis tersebut bernama ishaq. Ia tak mengerti juga tak paham maksud dari pengemis itu.

Setelah kejadian itu, Ishaq terus kepikiran pada ramalan itu. Kegiatan hariannya ia lakukan seperti biasanya. Pada malam ke sekian, Sang Syaikh sedang berdongeng tentang keagungan Nabi Sulaiman, Sang Penguasa Angin. Para darwis khidmat menyimak tuturan dari Sang Syaikh kecuali Ishaq yang terus memikirkan kata-kata si pengemis. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu khaniqah (majelis pengajian) tersebut. Seorang Profesor, yang merupakan kawan lama Sang Syaikh, bersama anak perempuannya, dan seorang kapten datang ingin menemui Sang Syaikh. 

Sebuah silinder emas berhiaskan permata di tangannya yang berisi gulungan kertas papirus kuno berlambang Bintang Daudlah yang membawa mereka untuk ingin menemui Sang Syaikh. Gulungan papirus tersebut ditemukan oleh sang kapten dalam sebuah gua di padang pasir tempat sang kapten tersesat. Gulungan perkamen itu berisi tentang do’a dari pendeta zaman nabi sulaiman. Sang Syaikh pun menyuruh mereka mengungkap rahasia dibalik silinder emas itu. 

Dari penemuan inilah yang nantinya mengantarkan 7 murid sang Syaikh menempuh perjalanan panjang penuh badai, rumit, dan menegangkan. Ujung dari perkamen tersebut bermuara pada artefak terbesar dalam sejarah zaman kuno; Cincin Nabi Sulaiman. Sebuah cincin bergambar hexagon, segel nabi sulaiman, yang bisa membuat angin, jin, binatang dan bahkan seluruh makhluk hidup akan tunduk dan taat kepada perintah pemakainya. Ishaq, ditunjuk sebagai juru tulis perjalanan, bersama dua orang darwis lainnya Ali dan Rami. Mereka diutus untuk ikut dalam ekspedisi tersebut. Ekspedisi yang kelak akan membentuk kepribadian mereka. Perjalanan mereka dipandu oleh seorang sufi yang manguasai ilmu Nabi Khidir. Ia adalah pengemis yang meramal Ishaq di masjid haramus-syarif. 

Perjalanan itu tidak seperti yang mereka sangka. Mereka akan terdampar di sebuah tempat misterius yang belum pernah ada di dunia nyata. Tempat yang sangat jauh dan tidak semua orang dapat mengetahui tempat tersebut. Nama tempat tersebut Jinnistan, kerajaan Jin yang dibangun oleh Raja Sulaiman sebagai hadiah untuk Ratu Sheba, itulah tempat tujuan akhir mereka. Dalam perjalanan menuju jinnistan mereka dikepung badai pasir dan terdampar di reruntuhan istana kuno yang tak diketahui secara jelas identitasnya. Mereka menemukan semacam altar yang terdiri dari empat buah pintu yang menghadap persis kepada empat arah mata angin. 

Di tengah-tengahnya terdapat sebuah sumur tua bergambar segel Sang penguasa angin. Dari sanalah mereka mulai memasuki Jinnistan dan bertemu dengan Sang Raja Jin, Baalzeboul. Irving Karchmar, penulis buku, seorang darwis yang dulunya seorang yahudi yang kemudian menjadi muslim dan berbaiat pada Tarekat Ni’matullahi, menyajikan sebuah novel spiritual dengan latar kehidupan sufistik, yang telah diterjemahkan dalam 7 bahasa. Dari judul di atas memang sekilas novel ini nampak mengandung cerita mistis. Namun sebenarnya inti dari kisahnya bukanlah kisah mistis dan jalan ceritanya pun tidak bernada horror. Di sini, Karchmar menggambarkan adat kehidupan Tarekat Sufi gaya Persia mulai dari tatakrama, kehidupan sosial bermasyarakat, romantisme antara mursyid dengan para darwis, dan sisi spiritual pribadi sendiri.

Ketegangan perjalanan tidak berhenti sampai disini. Masih ada tantangan yang akan mereka hadapi ketika memasuki Jinnistan. Tanpa diketahui ternyata para jin pun menaruh harapan terhadap mereka, agar bisa membebaskan mereka dari dosa kekafiran. Apakah mereka berhasil melakukan petualangan panjangnya? Benarkah cincin nabi sulaiman itu ada? Lantas siapa yang menyimpan pusaka tersebut nantinya? Semuanya tertera jelas penuh misteri dalam buku berjudul Sang Raja Jin, Petualangan Menemukan Cincin Nabi Sulaiman.

Al Hakam ( Yang Menetapkan Hukum )

Posted by "Asmaul Husna" Tuesday, April 16, 2013 0 comments

Al-Hakam berasal dari akar kata ha-ka-ma. Dari akar kata itu bisa berubah menjadi haakim dan hukm. Semua kata yang berasal dari pengembangan akar kata ha-ka-ma mempunyai makna yang sama, yaitu menghalangi. Itulah sebabnya, hukum dapat diartikan sebagai perangkat yang dapat menghalangi atau membatasi seseorang atau sekelompok orang dari tindakan yang melanggar.

Pengertian pertama Al-Hakam adalah bahwa Allah-lah yang Maha Memutuskan dan Menetapkan semua perkara. Segala yang terjadi di kolong langit dan di atas bumi adalah ketetapan-Nya. Kapan selembar daun mengering, kapan terlepas dari tangkainya, dan kapan pula jatuhnya ke bumi, Dia-lah yang menetapkan. Tiada Tuhan selain Allah, yang menetapkan segala sesuatu berdasar hukum-Nya.

Pengertian kedua, melalui Asma-Nya ini Allah menetapkan bahwa setiap individu manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya. Setiap individu menanggung sendiri dosa dan pahalanya. Anak tidak menanggung dosa bapaknya, demikian juga sebaliknya. Islam tidak mengenal dosa warisan, sebagaimana firman-Nya: “Dan bahwa setiap manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepada-nya).” (An-Najm: 39-40).

Pengertian ketiga, sebagai Al-Hakam, Allah telah menetapkan kepastian hukum bagi hamba-Nya. Bagi yang berbakti akan diganjar dengan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang durhaka akan dihukum dengan kesengsaraan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yanag penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13 dan 14)

Pengertian keempat, Allah adalah Hakim Agung. Sebagai Hakim Agung, Allah tidak membutuhkan sesuatu, malah sebaliknya segala sesuatu membutuhkan-Nya. Dia tidak bisa dirayu, disogok, dan disuap. Di pengadilan Allah, semua perkara diputus dengan seadil-adilnya. Semua alat bukti dapat dihadirkan, bahkan Allah sendiri yang akan menjadi saksinya. Jangankan perbuatan yang terlihat, niat yang tersembunyi sekalipun dapat dilihat Allah swt. Di hadapan Allah, mana mungkin kita mengingkari atau sekadar menyembunyikannya?

Pengertian kelima, setiap keputusan yang keluar dari-Nya pastilah merupakan keputusan dan adil dan bijaksana. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tapi hamba-Nya lah yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Apa pun keputusan-Nya harus kita terima. “Boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi lebih baik bagi kamu, dan bisa jadi apa yang kamu sukai itu menjadi jelek bagi kamu.” (Al-Baqarah: 216)

Sebagai hambanya Al-Hakam, kita hanya boleh berbaik sangka terhadap apa yang telah diputuskan kepada kita sampai saat ini, juga terhadap apa yang akan diputuskan kelak pada kita di akherat nanti. Kita rela dan bersyukur atas keputusanNya di dunia ini, dan kita senantiasa berharap keputusan terbaik buat kita di akherat kelak.

“Maka patutkah aku mencari hukum selain daripada Allah, padahal Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Al-An’am: 114)

Al - Bashir Yang Maha Melihat

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments
Al-Bashir berasal dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. Dalam pengertian yang lebih luas, bashara bisa berarti ilmu atau kejelasan. Nabi Yusuf, sebagaimana dikutip dalam al-Qur’an, senantiasa melakukan dakwah kepada para terpidana dan petugas di lingkungan penjara dengan mengatakan: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan bukti yang sangat jelas dan nyata (bashirah),” (QS. Yusuf: 108)

Arti lain, seperti yang sering dipakai oleh kaum sufi, adalah mata hati atau mata batin. Ada pula yang menyebutnya dengan indera keenam. Apa pun namanya, seseorang yang telah memiliki bashirah akan mampu melihat hal-hal yang ghaib. Ketika melihat sesuatu, ia tidak hanya melihat dengan mata kepalanya saja, tetapi menggunakan mata batinnya yang dapat menembus batas ruang dan waktu.

Bashirah dalam pengertian yang kedua tersebut hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekat atau melakukan taqarrub kepada Allah. Salah satu hamba-Nya yang jelas-jelas telah memiliki bashirah adalah Muhammad saw, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an: “Telah diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Israa: 1).

“Tanda-tanda Kami” dalam ayat di atas tidak lain adalah sesuatu yang ghaib, terselubung, atau tersembunyi. Nabi Muhammad diberi kesempatan untuk menyaksikan peristiwa ghaib melalui mata batinnya. Tirai yang menyelubungi alam ghaib dibuka sehingga tidak ada lagi pembatas yang mengantarai Rasulullah saw dengan alam ghaib. Dengan begitu, peristiwa masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, tertampang jelas di hadapannya.

Bashirah itu tidak hanya diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saja, tapi dalam batas-batas tertentu juga dikaruniakan kepada para hamba-Nya yang senantiasa taqarrub kepada-Nya. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

“Dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunnat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya, serta kaki yang dijalankannya. Apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan. Jika meminta perlindungan, maka pasti Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Sebagai hamba Al-Bashir, kita harus menyadari bahwa seluruh aktifitas kita dilihat dan diawasi Allah. Bagi-Nya, tiada tempat yang tersembunyi. Dengan kesadaran itu, kita akan selalu memilih aktifitas yang baik dan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh menghindari segala aktifitas yang sia-sia dan mendatangkan mudharat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Ketika terbersit keinginan untuk berbuat maksiat, sekecil apa pun, kita segera menyadari bahwa Allah (Al-Bashir) sedang mengawasi kita. Timbul rasa malu, kemudian ada dorongan dalam diri untuk segera meninggalkannya.

Ya Allah, Al-Bashir
Kami malu jika Kau beberkan yang Kau lihat pada diriku
Kami takut jika Kau balas yang Kau lihat padaku
Ya Bashir, berilah kami mata batin agar kami dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Mu,
agar kami senantiasa memuliakan dan mengagungkan-Mu.

As-Sami' Yang Maha Mendengar

Posted by "Asmaul Husna" Sunday, April 7, 2013 0 comments
Semua ucapan, pikiran, desiran daun dan segala gerak-gerik makhluk tak luput dari jangkauanNya, semua terdengar dengan jelas meski terkadang ada yang menyembunyikan
Allahlah yang mendengar semua yang terucap, terlintas dalam pikiran dan akal, apa yang dirasakan dalam hati. Gemericiknya air, gemerisiknya dedaunan kala ditiup angin, bahkan bunyi jejak langkah kaki semut Allah mendengarnya dengan jelas. As-Sami’ Yang Maha Mendengar, adalah sifat kesempurnaan karena lawan katanya tuli, sebagai sifat kekurangan.

Ada dua tingkat kesempurnaan yang relatif dan mutlak. Kesempurnaan mutlak tidak bergantung pada alat, keadaan, atau batasan. Sedangkan kesempurnaan yang relative tergantung pada alat, keadaan dan tebatas.
Alam semesta sejak penciptaan awal hingga akhir dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa terputus, segala bunyi dan suara selalu mengiringi penciptaan ini. suara ini terkadang ada yang mampu didengar oleh manusia, sebagaimana halnya suara ledakan keras, ada pula yang tidak terdengar oleh pendengaran manusia.

Suara ini tidak ada yang hilang dari catatan As-Sami’ dalam buku besar yang tersimpan dalam lauhul mahfudz. Semua suara dan bunyi dari makhluk di alam semesta terjejak dengan rapi, penuh makna. Jika suara ini adalah pertanyaan, maka Allah menjawabnya, jika sebuah tuntutan, maka akan dipenuhiNya, jika ini adalah sebuah salah, maka akan ditunjukkan jalan kebenaran olehNya.

Allah Maha mendengar segala keluh, gundah, kegelisahan, dan kehampaan kita. Hanya dengan isyarat dalam hati Allah mampu mendengar. Tak perlu kita melenguhkan suara kita untuk memohon kasihNya. Hanya dengan ungkapan air mata, Allah sudah memahami apa yang kita inginkan.

Allah dengan sengaja menciptakan dua telinga untuk kita, agar kita lebih banyak mendengar suara-suara di sekeliling kita. Mendengar suara rintihan kaum papa yang mengharap pertolongan sesama. Mendengar nasihat-nasihat yang datang dari berbagai penjuru arah untuk memaknai kebesaran As-Sami’, mencintai sifat-sifatNya yang sempurna.

Ini semua merupakan bukti, bahwa Allah ada di sekeliling kita dengan segala jejak yang ditinggalkanNya melaui suara-suara hidayah alam. Sehingga kita bisa menyadari, menemukan dan mencintaiNya dimanapun kita berada.

Di saat kita merasa hampa dan tiada berdaya, hanya Allah mampu mendengar apa isi hati kita. Segala yang tak terucap dari lisan, Allah tahu dengan sejelas-jelasnya. Allah tidak akan pernah bosan mendengar segala pinta dan asa kita.

Maha MendengarNya, tidak hanya di alam nyata, di alam ghaib Allah menguasaiNya. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al-An’am 59, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An’am 59)

Menyebut asma As-Sami dalam setiap dzikir kita semakin menambah kedekatan kita kepadaNya. Memuja sifat dan mengamalkan dalam kehidupan akan membawa kita kepada kepekaan untuk lebih memahami kekuasaaNya.

Pernahkah kita mendengar detak jantung yang memompa darah kita setiap harinya? Atau suara helaian nafas yang keluar dari rongga dada ini? Begitu pun dengan desir aliran darah yang menjalari? Semua anggota tubuh kita, tiada berhenti memujanya. Hanya keterbatasan pendengaran kita yang membuat segalanya menjadi kabur tertutup oleh hijab kekhilafan kita.

Allah dalam hadis qudsi mengungkapkan, “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan terus menerus bersikapa taat kecuali Aku akan mencintaiNya dan jika Aku mencintaiNya, maka Aku akan menjadi telinganya  yang dengannya dia mendengar dan menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara dan menjadi tangannya yang dengannya dia menggenggam.”

Semoga pendengaran kita semakin mengasah kepekaan kita untuk merasakan keindahan semesta dan penciptaNya.

Al Mudzillu (Yang Maha Menghinakan)

Posted by "Asmaul Husna" Saturday, April 6, 2013 0 comments

Lafal Al-Mudzillu mempunyai arti atau mengandung makna bahwa Allah Subhanahu Wata'ala, adalah Dzat yang menundukkan orang yang dikehendaki-Nya dengan jalan menghinakannya. Berakhlak dengan kedua ism ini mengharuskan seseorang agar memuliakan kepada siapa yang diperintahkan supaya dimuliakan dan menghinakan kepada siapa yang diperintahkan supaya dihinakan. 

Khasiatnya Ism Al-Mudzillu menurut beberapa pendapat jika dibaca sebanyak tujuh puluh lima kali kemudian ia berdoa di dalam sujudnya, niscaya ia akan bebas dari dalam penjaranya dan akan selamat dari gangguan orang-orang yang dengki dan aniaya.

Al Mudzill secara bahasa berarti menimpakan kehinaan. Allah Al Mudzill, artinya Allah menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki menurut hikmah kebijaksanaan-Nya. Misalnya, Allah menghinakan orang-orang musyrik, kafir, dan munafik karena kedurhakaan mereka.

Allah memiliki otoritas untuk memuliakan dan menghinakan hamba-Nya. Seorang hamba dimuliakan karena amalnya, demikian juga hamba yang lain dihinakan karena perbuatannya. Allah memuliakan dan menghinakan hamba-Nya atas dasar ilmu juga keadilan-Nya. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri.

"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." [Q.S. Ali 'Imran: 26]

Seorang muslim yang memahami Asma Allah yang satu ini senantiasa waspada dan hati-hati, sebab bisa jadi kehormatan dan kemuliaan yang kini disandangnya menjadi batu ujian yang justru bisa membalikkan posisinya.

Jika saat ini diberi amanah harta dan kekayaan, ia tidak bangga apalagi menyombongkan diri. Ia tetap tawadhu (rendah hati) sekalipun kekayaannya melimpah, anak buahnya banyak, dan orang lain memberi penghormatan karena kebaikan dan kedermawanannya. Ia sadar bahwa harta dan kekayaannya adalah amanah dan titipan Allah agar ia mampu membagikan kesejahteraan kepada yang lain. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara untuk menyejahterakan kaum fakir dan miskin.

Seorang Muslim yang menyadari hakikat Asma Allah, Al-Mudzil senantiasa hati-hati dalam menggunakan harta kekayaannya. Ia tidak semena-mena membelanjakannya, apalagi untuk kemaksiatan. Sebaliknya, seluruh hartanya hanya dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menyantuni fakir miskin, keperluan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Pangkat dan jabatan tak jarang menjadikan manusia lupa diri. Dengan pakaian seragam militer, polisi, dokter, atau kepegawaian, kadang seseorang merasa terhormat. Apalagi jika di pundaknya atau di dadanya terselip simbol-simbol tertentu. Tiba-tiba timbul dalam dirinya keinginan untuk dihormati dan dihargai. Ia merasa lebih dari yang lain. Hatinya merasa terkoyak bila ada orang yang tidak memedulikannya.

Di dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah dan mengingkari ayat-ayat-Nya akan ditimpakan kehinaan. Salah satu dari mereka adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an, "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan." [Q.S. Ali 'Imran: 112]

"Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan..." [Q.S. Yunus: 27]

Untuk lebih menghayati Asma Allah, Al-Mudzil, berikut ini kami kutipkan hadits qudsy dalam kitab Al-Ghazali. Allah berfirman,

“Wahai manusia! Wahai budak-budak uang! Aku menjadikan uang agar engkau dapat menikmati rizki-Ku, mengenakan pakaian-Ku, dan agar kalian semua bertasbih dan menyucikan diri-Ku. Tetapi ternyata kalian mengambil kitab suci-Ku, lalu engkau letakkan di belakangmu dan engkau mengambil uang lalu engkau letakkan di atas kepalamu. Kau agung-agungkan rumahmu dan kau remehkan rumah-Ku. Sungguh engkau bukanlah manusia pilihan, bukan orang-orang yang merdeka. Tapi engkau adalah para budak dunia. Sekumpulan manusia sepertimu laksana kuburan yang dibangun dengan tembok. Sepintas dari luar tampak cantik molek, tetapi di dalamnya jelek. Begitu pula dengan sikapmu, sepintas kalian berbuat baik, simpatik, dan penuh kasih kepada orang lain dengan mulutmu yang manis dan perbuatanmu yang manis memikat, tetapi sesungguhnya hatimu keras dan kasar, serta budi pekertimu sangat nista. Wahai manusia! Bersihkan perbuatanmu dari noda, lalu mintalah kepada-Ku. Sungguh Aku memberi kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang dimintakan para peminta.”

Akhirnya, marilah kita berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh Engkau tidak pernah mengingkari janji. [Q.S. Ali 'Imran: 194]

Al Mu'izzu

Posted by "Asmaul Husna" Friday, April 5, 2013 0 comments

AL MU'IZZU (Dzat Yang Maha Memuliakan)  


Menurut sebagian pendapat Asma' ini jika diamalkan oleh seorang pemimpin, baik pemimpin disebuah kantor maupun tokoh masyarakat, insya Allah akan mendapatkan kewibawaan yang dapat menunjang kedudukannya. Hendaklah membiasakan membaca "Ya Mu'izzu" setiap harinya dengan bilangan tertentu tapi tidak terbatas dan kontinue.
Apabila kemudian dengan kekuasaan yang Allah berikan membuat seseorang berakhlak buruk karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah akan menghinakannya. Sebagai contohnya seorang pimpinan yang mementingkan dirinya sendiri, bertindak sewenang-wenang dan tidak perduli dengan bawahannya. Maka akan dimasukkan kedalam hati setiap bawahannya rasa tidak suka dan memandang hina kepada pimpinan tersebut. Begitu juga sebaliknya apabila seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan membuatnya berakhlak mulia, maka Allah akan memuliakannya.

Dengan kata lain apabila seseorang bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah akan memuliakanya. Begitupun sebaliknya apabila seseorang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya yang selalu ia ikuti, maka Allah akan menghinakannya. Dan hal ini hanya berlaku bagi orang-orang yang diinginkan Allah untuk diselamatkan.

Apabila Allah ingin memuliakan seseorang Dia tidak memandang status sosial. Oleh karena itu carilah kemuliaan dimata Allah Subhanahu Wata'ala, pasti kita akan mulia dimata manusia. Janganlah mencari kemuliaan dimata manusia, karena kita akan hina dimata Allah juga dimata manusia. Asma’ Allah ini hanyalah instrumen untuk menyelamatkan akidah bagi hambanya yang diberi karunia kekuasaan, minimal kekuasaan didalam hatinya.

Pada dasarnya setiap manusia telah diilhamkan fasik dan taqwa kedalam hatinya. Oleh karena itu apabila seseorang memilih jalan ketaqwaan akan dimuliakan oleh Allah, begitupun sebaliknya apabila memilih jalan kefasikan akan dihinakan oleh Allah.

Masalah hawa nafsu harus benar-benar kita perhatikan, karena hawa nafsu inilah yang bisa menjerumuskan manusia. Apabila seseorang sudah menjadi fasik (selalu mengikuti hawa nafsu), maka syetan akan menggiringnya menjadi kafir, musyrik dan munafiq.

Apabila dalam hidup ini kita selalu memperturutkan hawa nafsu, seperti mengejar kekuasaan, ilmu dan harta sebanyak-banyaknya untuk kehidupan dunia (kepuasan nafsu), akan tetapi kita justru dimuliakan dan disanjung oleh orang banyak, maka seharusnya kita menjadi takut. Jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang dibiarkan Allah dalam kesesatan. Karena hukum Allah apabila seseorang mengikuti hawa nafsu akan direndahkan, tetapi kenapa kita justru dimuliakan dan disanjung orang banyak ? Seharusnya kita bertanya pada diri sendiri kenapa hukum Allah tidak berlaku pada diri kita ?

Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang berlomba-lomba mencari harta, ilmu dan kekuasaan. Dan tujuan mencari semua itu agar mereka diakui keberadaannya, ingin dikatakan kaya, mulia, besar dan lain sebagainya. Padahal itu semua adalah hak Allah Ta'ala, dan barang siapa yang merampas hak Allah Ta'ala akan dimasukkan kedalam neraka.

Oleh sebab itu agama Islam tidak membedakan antara orang kaya dan orang miskin, orang terhormat dan tidak terhormat. Karena yang membedakan kemuliaan seseorang disisi Allah Ta'ala adalah ketaqwaannya. Yang dinamakan taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan yang menghalangi manusia tidak mau menjalankan ketaqwaan adalah hawa nafsu.

Ar Rafi'u

Posted by "Asmaul Husna" Thursday, April 4, 2013 1 comments

Ar-Rafi’ berasal dari kata ra-fa-’a yang artinya meninggikan, sedang arti Ar-Raafi’ sendiri adalah Yang Maha Tinggi. Allah adalah wujud yang Maha Tinggi, bahkan Dia adalah setinggi-tinggi wujud dalam segala sifat keagungan-Nya.

Dalam al-Qur’an bisa dijumpai beberapa ayat yang menjelaskan tentang ”kesibukan” Tuhan dalam meninggikan derajat nabi dan para wali (kekasih)-Nya. Di antaranya adalah Nabi Isa as yang telah diwafatkan dan kemudian ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di sisi-Nya, setelah di dunia dihinakan oleh ummatnya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan meninggikanmu”. (Ali Imraan: 55)

Nabi Muhammad termasuk disebut dalam al-Qur’an sebagai orang yang ditinggikan sebutan (derajatnya). Nama beliau tidak saja digandengkan dengan nama-Nya dalam dua kalimah syahadat, tapi namanya senantiasa disebut-sebut dalam setiap shalawat. Sekalipun beliau sudah wafat 14 abad yang lampau, namanya tetap harum dan paling banyak disebut dan diucapkan manusia sampai hari kiamat.

Tak sedikit orang yang semasa hidupnya tidak banyak disebut orang, bahkan oleh para musuh politiknya dikategorikan sebagai pengkhianat negara, tapi setelah wafat sekian lamanya, namanya direhabilitasi. Orang menyebutnya kembali sebagai pahlawan. Pikiran-pikirannya muncul kembali menjadi ruh dalam menyemangati perjuangan dan idealisme.

Dia-lah Allah yang tidak pernah lepas memperhatikan satu per satu hamba-hamba-Nya, memperhitungkan, sekaligus memberi hukuman dan penghargaan. Orang-orang yang mengukir prestasi semasa hidupnya di dunia ini tak perlu khawatir perbuatannya sia-sia. Lambat atau cepat prestasi itu akan diperlihatkan dan dihargai. Bisa jadi penghargaan itu diberikan pada saat dia masih hidup, mungkin juga diberikan saat sudah mati. Namanya dikenang banyak orang, dijadikan teladan, dijadikan sumber inspirasi, dan ditulis dalam catatan sejarah dengan tinta emas.

Pahlawan Uhud adalah contoh kongkret tentang orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Dalam hadits qudsiy Allah berfirman: “Ketika kawan-kawanmu mendapat musibah dalam Perang Uhud, Allah SWT memindahkan ruh-ruh mereka itu ke dalam burung-burung hijau yang menghinggapi sungai-sungai surga sambil memakan buah-buahannya dan kemudian berlindung ke lampu-lampu emas yang bergantungan di bawah naungan Arsy. Tatkala mereka merasakan nikmatnya tempat peristirahatan mereka di surga itu, berkatalah mereka: siapakah gerangan yang akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang hal ihwal diri kami yang hidup bahagia di surga, agar mereka tidak meninggalkan jihad dan agar mereka tidak licik meninggalkan medan perang? Allah menjawab: Akulah yang akan menyampaikan kepada mereka perihal diri kamu semua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan Ibnu Abbas)

Jika kita ingin meneladani Allah dalam sifat Ar-Raafi’ ini, maka kita harus berusaha keras untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta membela hamba-hamba Allah yang memperjuangkannya.

Al Khaafid

Posted by "Asmaul Husna" 0 comments

Al-Khaafidh berasal dari kata kerja kha-fa-dha, yang berarti merendahkan. Dalam al-Qur’an tidak didapati satu ayat pun yang secara langsung menyebut nama Al-Khaafidh. Meskipun demikian, ditemukan turunan kata itu dalam beberapa ayat, misalnya dalam surat Al-Waqi’ah: 3 yang menggambarkan hari kiamat sebagai ”Khaafidhatur-Raafi’ah”, (pada hari itu Allah ”merendahkan dan meninggikan” derajat manusia). Ada manusia yang saat di dunia memiliki tempat dan kedudukan yang tinggi di depan manusia, tapi oleh Allah pada hari kiamat justru direndahkannya. Sebaliknya, ada yang dalam kehidupan dunianya direndahkan oleh manusia, sementara Allah pada hari itu justru meninggikan derajatnya.

Suatu hari Rasulullah ditanya tentang arti firman ”Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman: 29), beliau menjawab: ”Termasuk kesibukan-Nya adalah mengampuni dosa, menghilangkan keresahan, meninggikan kelompok-kelompok manusia, dan merendahkan yang lain”. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, kita bisa menangkap makna bahwa Allah swt tidak pernah berhenti beraktifitas. Dia senantiasa sibuk, selain menjaga rotasi alam, juga mengatur kehidupan makhluk istimewa-Nya yang bernama manusia. Dia memberi ampunan pada siapa saja yang bertaubat kepada-Nya, menghilangkan kegelisahan orang-orang yang stres, meninggikan orang yang berprestasi, dan merendahkan manusia dengan berbagai sanksi sosial, moral, dan hukum.

Al-Qur’anul Karim telah menjelaskan kepada manusia tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan kejatuhan, kebangkitan, dan ketinggian.  

Berikut ini adalah salah satu ayat yang menjelaskan tentang hukum tersebut:

”Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam kesempurnaan ciptaan, kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (QS. At-Tiin: 5)

Al-Qur’an sangat cermat memilih kata, dipilihnya kata ”Kami” untuk menggambarkan keterlibatan manusia dalam ketinggian dan kerendahan derajatnya. Jika manusia mengoptimalkan fungsi ruh Ilahi –yang dalam al-Qur’an digunakan istilah ”Min Ruuhiy”— untuk mengangkat derajatnya ke tingkat ”ahsanu taqwiim, maka tinggilah derajat kemanusiaannya. Sebaliknya, jika manusia melepaskan diri dari daya tarik ruhnya dan mengikuti daya tarik bumi (gravitasi) sebagaimana makhluk binatang yang hidupnya hanya diperuntukkan bagi pemenuhan makan, minum, dan hubungan seksual semata, maka ia akan meluncur jatuh ke tingkat yang serendah-rendahnya.

Al-Qurthubi dalam al-Asmaul Husna meng­ingatkan: ”Ketahuilah bahwa yang direndahkan Allah adalah manusia yang terhindar dari taufiq dan pertolongan-Nya, yang diperintah oleh nafsunya, yang tidak memperoleh kebajikan dari Tuhannya. Apabila berusaha kembali kepada-Nya, ia tidak mendapatkan bisikan hati tentang kekuasaan-Nya. Apabila berusaha mendengar bisikan-bisikan hatinya, ia tidak meraih percaya diri atau kelezatan dalam bermunajat dengan-Nya”.

Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni kehidupan manusia di muka bumi, Allah swt menerapkan hukum ”reward and punishment”. Hadiah diberikan kepada mereka yang berprestasi, sedang hukuman diberikan kepada mereka yang melanggar aturan. Bisa jadi reward and punishment itu tidak diberikan semasa hidup di dunia ini, tapi yang pasti di akhirat nanti semua orang akan mendapat hadiah dan sanksi. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan diangkat derajatnya dengan mendapat kedudukan yang tinggi (surga), sedangkan mereka yang kafir, musyrik, dan munafiq akan diberi sanksi dengan hukuman neraka jahim. Allah menghinakan siapa saja yang layak mendapatkan kehinaan akibat perbuatannya.

Al Baasith

Posted by "Asmaul Husna" Tuesday, April 2, 2013 0 comments
"Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ankabuut: 62)  

Al-Baasith adalah nama Allah yang menyertai bahkan tak terpisahkan dengan nama sebelumnya, yaitu Al-Qaabidh. Jika Al-Qaabidh bermakna menyempitkan, maka Al-Baasith berarti sebaliknya, Maha Melapangkan. Kata al-Baasith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.

Adalah hak absolut Allah untuk melapangkan atau menyempitkan rizki hamba-hamba-Nya, sebagaimana pula hak absolutNya memperpanjang dan memperpendek umur mereka. Sebagian orang dimudahkan mendapat rizki sehingga harta kekayaannya melimpah, sebagian yang lain disempitkan rizkinya sehingga hidupnya pas-pasan atau malah kekurangan. Dialah yang mengetahui rahasia di balik pembagian rizki yang tidak merata.

Sebagian dari rahasia itu dibuka oleh Allah dalam firman-Nya: ”Dan jika Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 27)

Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan suudzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Sikap negatif lain yang harus dihindari adalah iri hati atau hasad. Sudah merupakan sunnah-Nya bahwa ada sebagian diberi kelebihan rizki dibandingkan yang lain. Allah berfirman:

”Dan jangalah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisaa: 32)

Kita hendaknya lapang dada menerima perbedaan tersebut, sembari terus berusaha keras dan cerdas untuk mengais rizki-Nya. Hari ini mungkin  Allah menyempitkan, tapi siapa tahu justru besok Allah akan melapangkan. Semua itu adalah rahasia-Nya. Bagi kita, yang penting adalah ikhtiar dan berdo’a.

”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah dari sebagian rizki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Bagi mereka yang dilapangkan rizkinya, hendaknya senantiasa menyadari bahwa rizki itu amanah dan titipan Allah. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan kedudukan yang tinggi jangan menjadikan lupa diri, sombong, dan takabbur. Jangan seperti orang yang disebut dalam ayat di bawah ini:

”Jika kami memberi kesenangan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, dan bila ia ditimpa kemalangan, ia berdo’a berpanjang-panjang.” (QS. Fushshilat: 51)

”Bila Kami rasakan kepadanya suatu rahmat dari Kami sendiri, setelah ada kemalangan menimpanya, pasti ia berkata: Ini karena usahaku sendiri, dan aku tak yakin akan terjadi hari kiamat.” (QS. Fushshilat 50)

Kaum Muslimin yang menyadari dan berusaha mencontoh nama dan sifat-Nya Al-Baasith, akan berusaha sekuat tenaga untuk memberi kelapangan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Kekayaan yang diberikan Allah tidak digunakan untuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi didistribusikan kepada masyarakat sekitarnya, terutama terhadap fakir miskin dan para mustadh’afiin. Mereka sadar bahwa di dalam hartanya ada hak mereka yang harus dikeluarkan.

Akhirnya, marilah kita menyikapi kelapangan rizki itu sebagaimana sikap Nabi Sulaiman yang senantiasa berdo’a:

”Tuhanku! Berilah aku kesempatan untuk berterimakasih atas nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh”. (QS. An-Naml: 19)    

Al Qaabidh

Posted by "Asmaul Husna" Monday, April 1, 2013 0 comments

Sebagian Ulama Islam menganggap kurang etis menyebut Asma Allah Al-Qaabidh tanpa kemudian menyandingkannya dengan Asma Al-Baasith. Menurut mereka, kesempurnaan Allah terletak pada kekuasaan-Nya untuk menahan dan melepas, menyempitkan sekaligus melapangkan. Mereka sangat khawatir jika Al-Qaabidh tidak disandingkan dengan Al-Baasith akan timbul kesan negatif pada citra Allah. Akan tetapi sebagian Ulama lain menyebutkan bahwa boleh-boleh saja menyebut Al-Qaabidh tanpa menyertakan Al-Baasith asal tidak disalah artikan.

Siapa yang bisa menyalahkan Allah ketika menyempitkan rizki seseorang ? Siapa yang bisa menegatifkan citra Allah ketika memendekkan umur hamba-Nya ? Di balik semua kebijakan-Nya terdapat hikmah yang Dia sendiri mengetahui-Nya, sedangkan manusia baru bisa mengambil hikmahnya setelah peristiwanya berlalu.

Al-Qaabidh diambil dari akar kata yang makna awalnya adalah “sesuatu yang diambil” atau “keterhimpunan pada sesuatu”. Makna dasar ini kemudian berkembang sehingga melahirkan makna baru, seperti: menahan, menggenggam, menghalangi, dan menyempitkan. Istilah Al-Qaabidh sendiri tidak dijumpai dalam al-Qur’an sebagai sifat dan asma Allah, kecuali hanya dijumpai dalam bentuk kata kerja yang pelakunya adalah Allah swt, sebagaimana ayat berikut:

“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Sekalipun kata Al-Qaabidh tidak di­jumpai dalam Al-Qur’an, tapi kita bisa menemukannya dalam berbagai riwayat hadits, di antaranya menjelaskan tentang kekuasaan Allah menahan nya­wa hamba-hamba-Nya yang dike­hendaki. “Sesungguhnya Allah menahan nyawa (jiwa) kamu bila Dia menghendaki dan mengembalikannya jika Dia menghendaki”.

Dari uraian di atas, setidaknya kita bisa menyimpulkan untuk sementara bahwa Al-Qaabidh mengandung dua pengertian, yaitu menyempitkan rezeki dan memendekkan umur. Di tangan-Nya segala urusan rizki, dan di dalam genggaman-Nya pula soal nyawa makhluk-Nya. Ketika Dia menahan rizki milik-Nya atas seseorang, hendaklah ia tidak protes, sebab rizki itu milik-Nya dan hak-Nya Dia semata untuk membagikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Untuk itu, sikap yang baik adalah menerima dan meyakini akan kasih sayang-Nya. Keyakinan itu hendaknya diwujudkan dalam bentuk do’a dan ikhtiyar. Terus berusaha keras dan cerdas untuk memperolehnya, seraya tidak lupa memanjatkan do’a.

Bagi kita, mengenali sifat dan asma Allah Al-Qaabidh ini akan mendorong kita untuk berhati-hati menjalani hidup. Kita tidak akan main-main ketika diserahi titipan jabatan sebagai eksekutif, pengusaha, ulama, hakim, politisi, atau jabatan apapun, sebab bila Allah melihat sesuatu yang tidak beres atas perilaku hamba-hamba-Nya, maka Dia segera mengambil tindakan dengan dua tujuan, yaitu peringatan atau hukuman.

Ketika kita lalai menjalankan tugas atau menyelewengkan amanah karena khilaf, maka untuk memperbaikinya atau untuk mengembalikan kita pada “orbit” yang benar, Allah mengambil tindakan dengan menyempitkan gerak langkah kita melalui berbagai cara. Mulai dari menyempitkan rizki, memberikan rasa sakit, membatasi akses dan kesempatan, sampai pada menjadikan kita sesak dada dengan adanya berbagai tekanan dan himpitan permasalahan. Seorang yang arif ketika menghadapi situasi seperti ini segera menyadari bahwa itu semua adalah teguran Allah, kemudian meresponnya dengan kembali pada jalan yang benar sesuai kehendak-Nya.

Untuk itu kita diajarkan bermunajat kepada-Nya agar diberi hikmah kearifan, rabbi habli hukman (Tuhan, berilah aku hikmah kearifan) (QS. Asy-Syu’araa: 83). Dengan hikmah kearifan itu kita bisa menangkap berbagai bentuk “sinyal” peringatan Allah yang didatangkan kepada kita.

Adapun bagi mereka yang keras kepala atau hatinya telah mati, berbagai peringatan Allah tidak direspon secara positif. Mereka tetap berada di jalan yang sesat, sekalipun peringatan itu datangnya bertubi-tubi. Terhadap mereka ini sudah sepantasnya diberi hukuman.

Hikmah lain dari kesadaran kita terhadap Asma Allah Al-Qaabidh adalah penerimaan kita terhadap segala putusan Allah. Orang-orang yang arif akan memandang bahwa segala sesuatu yang telah diputuskan Allah pasti terbaik. Hal ini mengharuskan kita untuk “ridha”, menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Keridhaan itu merupakan manifestasi dari keyakinan kita kepada taqdir Ilahi. Dengan keridhaan itu, insya-Allah kita akan merasakan sekaligus menikmati lezatnya iman. Wallahu a’lam bish-shawab.

Al Alim

Posted by "Asmaul Husna" Saturday, March 30, 2013 0 comments

 بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ

 Al-Alim, العليم, Maha Mengetahui Segala Sesuatu 

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah; kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”

Bagi Allah, tidak ada yang tersembunyi. Serapat-rapat manusia menyimpan rahasia, Allah pasti mengetahuinya. Sekelebat mata yang berkhianat, Allah mengetahuinya. Niat hati yang tersimpan rapi, Allahpun mengenalinya. Lebih jauh dari itu, rahasia di balik rahasiapun, diketahui-Nya. Sesuatu yang sudah mengendap lama atau yang telah terlupakan oleh manusia, serta segala yang kini telah berada di bawah sadarnya, Allah tetap mengetahuinya. Dia berfirman :
“Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (me­ngetahuinya serta) mengetahui ra­hasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia).” (QS. Thaaha: 19)

Lalu, dapatkah kita bersembunyi dari pantauan-Nya? Dapatkah kita me­rahasiakan sesuatu di hadapan Allah? Dapatkah kita keluar dari monitoring-Nya?

Sungguh, Allah bahkan telah menge­tahui segala sesuatu sebelum terjadi, karena Dialah yang membuat rencana, Dia pula eksekutornya. 

“Tiada satu bencanapun yang menim­pa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakan-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Tidak hanya itu, bahkan Allah-lah sumber dari segala sumber ilmu. Dia tidak saja sekadar tahu, tapi Dia adalah sumber pengetahuan. Perlu diketahui bahwa ilmu Allah itu bukan hasil dari sesuatu, tapi segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini merupakan hasil dari ilmu-Nya. Allah berfirman: “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Meskipun demikian, Allah tidak mau memonopoli ilmu-Nya sendiri. Dia mau berbagi kepada makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Khusus dalam hal ini, manusia dibebaskan menyandang gelar aliim bagi mereka  sampai pada kualifikasi tertentu. Orang yang berpengetahuan boleh disebut aliim, sama dengan Asma yang disandang Allah. Akan tetapi harus disadari bahwa ilmu manusia tetaplah tak sebanding dengan ilmu Allah, bahkan tidak ada apa-apanya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa: 85)

Untuk menggambarkan betapa sedikitnya ilmu manusia, Al-Qur’an menegaskan: “Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

Itulah sebabnya Rasulullah dipe­rintahkan agar senantiasa berdo’a agar diberi tambahan ilmu. “Ya Tuhanku, tam­bahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaaha: 114)

Ilmu yang diharap tentu saja ilmu yang menimbulkan dampak positif dalam kehidupan, yaitu ilmu yang melahirkan amal shalih yang sesuai dengan petunjuk Ilahi. Ilmu inilah yang akan menimbulkan kesadaran ten­tang jatidiri manusia yang merasa dhaif di hadapan Allah swt. Dalam pandangan islam, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya kepada iman, dan ketundukan kepada Allah swt. 

Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Israa: 107-109).

Popular Posts